APA ITU WARIS ?

Pertanyaan

              Ayah saya ingin membagi warisannya kepada anak-anaknya, dan ayah saya masih hidup. Bagaimana cara pembagiannya ?

Jawaban

              Permasalahn ini banyak terjadi di masyarakat kita. Mereka membagi hartanya kepada anak-anak dan menganggap ini warisan.

Para ulama kita membahas permasalahan ini dalam kitab-kitab mereka dengan istilah “al-Faraidh”.

              Al-Faraidh, dalam Bahasa Arab, bentuk jamak dari tunggalnya “al-Faridhah” yang bermakna mengharuskan atau keputusan atau penjelasan. (Lisan Al-Arab 7/202)

              Secara istilah al-Faraidh itu sebuah dimensi ilmu syariah yang berbicara tentang pembagian warisan, siapa yang mendapatkan, siapa yang tidak mendapatkan, dan berapa bagian masing-masing yang menerimanya. (Lihat asy-Syareh al-Mumti’ Ala Zaad al-Mustaqni’, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 11/199-200. At-tahqiqath al-Mardhiyyah Fii al-Mabahits al-Faradhiyyah, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 11).

              Untuk memperjelas pengertian waris di atas kita mencoba memahami ayat ke 7 dari surat an-Nisa berikut,

لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا تَرَكَ ٱلْوَٰلِدَانِ وَٱلْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا تَرَكَ ٱلْوَٰلِدَانِ وَٱلْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا

              “Bagi kaum lelaki ada bagian yang sudah ditentukan dari peninggalan kedua orang tua dan karib kerabat, dan bagi kaum perempuan ada bagian yang telah ditentukan dari peninggalan kedua orang tua dan Karin kerabat, sedikit atau banyak” dan juga firman Allah,

إِنِ ٱمْرُؤٌا۟ هَلَكَ لَيْسَ لَهُۥ وَلَدٌ وَلَهُۥٓ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ…

“… jika seorang meninggal dunia dan dia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan maka bagi saudara perempuannya itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya … “ (QS. An-Nisa: 176)

              Dari pengertian waris di atas dan juga kedua ayat di atas dari surat an-Nisa dapat kita simpulkan beberapa poin penting berkaitan dengan waris:

  1. Waris ini salah satu syariah yang Allah turunkan kepada Rasulullah untuk seluruh ummat Islam.
  2. Waris berkaitan dengan seseorang yang meninggal dunia dan meninggalkan harta benda.
  3. Waris berkaitan dengan pembagian harta kepada mereka yang dikenal dengan sebutan ahli waris.
  4. Ahli waris itu terdiri dari istri atau suami, kedua orang tua, anak-anak, saudara-saudara, paman, dan lainnya yang hidup di saat pemilik harta meninggal dunia.
  5. Waris mengatur pembagian harta yang ditinggal wafat oleh pemiliknya kepada ahli waris dengan bagian-bagian yang telah Allah dan Rasulullah tentukan di dalam al-Quran dan Hadits.
  6. Waris menentukan siapa yang berhak menerima harta tersebut, dan siapa yang tidak berhak menerimanya.

Saudaraku muslim dan muslimah, dari pemaparan di atas kita dapat menjawab kasus di atas bahwa itu bukanlah waris, tidak masuk dalam pembahasan ilmu waris, karena pemilik harta masih hidup. Sedangkan waris itu harus terdiri dari tiga komponan,

  1. Adanya seseorang yang wafat, dan dia disebut dengan pewaris.
  2. Adanya ahli waris yang hidup di saat pewaris wafat.
  3. Pewaris tersebut memiliki harta yang harus dibagi kepada ahli waris sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulullah.

Demikian artikel singkat ini mudah-mudahan dapat memberikan gambaran kepada saudara-saudara kita tentang apa itu waris, dan kapan pembagian harta itu masuk dalam ilmu waris. Semoga bermanfaat untuk semua.

 

USTADZ NIZAR SAAD JABAL, Lc. M.Pd

 

 

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.