Untuk lebih jelasnya, kita bisa membagi Keadaan Makmum Bersama Imam menjadi 4 keadaan sebagaimana banyak disebutkan oleh para ulama:

Keadaan Pertama: Makmum Mendahului Imamnya

Keadaan ini -bila disengaja- diharamkan, karena Nabi -shallallahu alaihi wasallam- telah melarangnya, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits, dan pada asalnya larangan menunjukkan hukum haram.

وَلَا تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ  …  وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ  …  وَلَا تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجد

“Jangan sampai kalian bertakbir, sampai imam bertakbir! … Jangan sampai kalian ruku’ sampai dia ruku’! … Jangan sampai kalian bersujud sampai dia bersujud”. [HR. Bukhari 805, dan Muslim 411].

Bahkan beliau memberikan ancaman khusus bagi pelakunya, yang menunjukkan bahwa ini adalah dosa besar. Beliau telah bersabda:

أما يخشى الذي يرفعُ رأسَه قبلَ الإِمامِ أن يُحَوِّلَ اللهُ رأسَه رأسَ حِمارٍ، أو يجعلَ صورتَه صورةَ حِمارٍ

“Tidak takutkah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, jika Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai, atau mengubah wajahnya menjadi wajah keledai?!”. [HR. Bukhari: 691, dan Muslim: 427].

Adapun shalat orang yang mendahului imamnya, maka ada dua keadaan: 

  1. Bila dia sengaja mendahului imam, maka batal shalatnya.
  2. apabila dia tidak sengaja mendahului imam, dan berusaha memperbaiki keadaannya, maka dia tidak berdosa dan sah shalatnya.

Tapi apabila dia tidak berusaha memperbaiki keadaannya, padahal dia tahu dan sadar dengan keadaannya yang mendahului imamnya, maka shalatnya menjadi batal, wallahu a’lam. 

Keadaan Kedua: Makmum Terlalu Lambat Dalam Mengikuti Imamnya

Keadaan ini terbagi menjadi dua.

  1. Terlalu lambat karena ada udzur.

Misalnya: Bila seorang makmum terlalu lambat dalam mengikuti imam karena tidak mendengar suara imam, dia mengira imam belum bergerak. Ternyata setelah dia sadar, dia sudah tertinggal 3 rukun. Maka solusinya dia melakukan apa yang belum dia lakukan, sampai dia bisa mengejar imamnya. Tentunya harus tetap menjaga thuma’ninah.

Kecuali apabila makmum itu tertinggal hingga satu rekaat tanpa sengaja, misalnya: bila makmum sujud, kemudian dia tidak mendengar suara imamnya, dia mengira imam memanjangkan sujudnya, dan baru sadar dengan ketertinggalannya ketika imamnya sudah sujud lagi di rekaat berikutnya, maka solusinya dia ikuti saja gerakan imam hingga selesai shalat, kemudian setelah itu dia mengganti rekaat yang tertinggal itu, seperti orang yang ketinggalan satu rekaat, wallahu a’lam.

  1. Terlalu lambat tanpa udzur. Ini juga ada dua keadaan.
  2. Jika makmum terlalu lambat tanpa udzur, tapi tidak sampai ketinggalan satu rukun, maka jelas ini menyelisihi sunnah, tapi tidak sampai membatalkan shalatnya.

Misalnya: jika makmum melamakan sujud akhirnya untuk berdoa, kemudian dia mengangkat kepalanya dari sujud dalam keadaan imam masih dalam tasyahudnya dan belum salam, maka shalatnya tetap dianggap sah, tapi perbuatannya jelas menyelisihi sunnah.

  1. Bila makmum terlalu lambat tanpa udzur, hingga ketinggalan satu rukun, maka shalatnya tidak sah, karena dia tidak lagi mengikuti imamnya.

Contohnya: bila seorang makmum melamakan sujud pertamanya untuk berdoa, sampai imamnya melakukan sujud yang kedua, maka orang yang seperti ini shalatnya dianggap tidak sah, karena dia tidak mengikuti imamnya dengan sengaja dan tanpa udzur, wallahu a’lam.

Keadaan Ketiga: Makmum Berbarengan Dengan Imamnya

Ini terbagi menjadi dua.

  1. Membarengi imam dalam bacaan shalat, maka ini tidak mengapa, kecuali dalam takbiaratul ihram. Karena ketika makmum berbarengan dengan imam dalam takbiratul ihram, maka ketika itu imam belum masuk dalam shalatnya dengan sempurna, tapi makmum sudah menjadikannya sebagai imam.
  2. Membarengi imam dalam perbuatan, maka ini makruh hukumnya.

Keadaan Keempat: Makmum Mengikuti Imam Dengan Segera Setelah Gerakan Imam Sempurna

Inilah yang disunnahkan, dan ini yang paling afdhal. Jadi makmum mengikuti gerakan imamnya dengan segera setelah imam menyempurnakan gerakannya.

Misalnya: ketika imam bergerak untuk sujud, maka makmum masih tetap berdiri tegak, sampai makmum melihat imamnya telah berada dalam posisi sujud, baru setelahnya makmum segera untuk mengikuti imamnya.

Hal ini seperti praktek para sahabat di zaman Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Sahabat Al-Bara’ bin ‘Azib mengatakan:

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قال:  “سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَه”، لم يَحْنِ أحدٌ منَّا ظهرَهُ، حتى يقعَ النبي صلى الله عليه وسلم سَاجداً، ثم نَقَعُ سجوداً بعدَه

“Dahulu Nabi -shallallahu alaihi wasallam- jika membaca ‘sami’allahu liman hamidah’, maka tidak ada seorang pun dari kami yang membungkukkan punggungnya hingga Nabi -shallallahu alaihi wasallam- turun sujud, kemudian kami baru turun sujud setelah beliau”. [HR. Bukhari: 690, dan Muslim: 474].

Lihat penjelasan seperti ini dalam kitab Asy-Syarhul Mumti’, karya: Syeikh Muhammad Al-Utsaimin -rahimahullah- (4/185-190)

Demikian artikel ini, walhamdulillah … semoga Allah berkahi dan Allah jadikan bermanfaat, amin.

MUSYAFFA AD DARINY

13 Rabiul Akhir 1440H/20 Desember 2018

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.