Makmum yang “masbuq” adalah makmum yang ketinggalan dalam shalat berjamaah, baik satu rekaat atau lebih. [Lihat: Atta’rifat, hal: 213].

Sedang “tawarruk” adalah bentuk duduk yang disunnahkan saat tasyahud akhir, yaitu posisi duduk dimana: pantat menempel ke lantai, telapak kaki kanan berdiri dengan jari-jemari yang ditekuk menghadap kiblat, dan telapak kaki kiri berada di bawah betis kanan.

Pada dasarnya seorang makmum diperintahkan untuk mengikuti gerakan-gerakan imam, sebagaimana disabdakan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam-:

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا، وَإِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا

“Sesungguhnya seseorang dijadikan sebagai imam agar diikuti, sehingga apabila dia bertakbir, maka bertakbirlah kalian! Apabila dia ruku’, ruku’lah kalian! Apabila dia sujud, sujudlah kalian! Dan apabila dia shalat dengan berdiri, shalatlah kalian dalam keadaan berdiri! [HR. Bukhari 378, dan Muslim 417].

Lalu, bagaimana jika keadaan makmum berbeda dengan keadaan imamnya? Seperti bila imamnya di tasyahud akhir, sedangkan makmumnya masbuq, apakah jika imamnya duduk tawarruk, makmum tersebut diperintahkan untuk mengikuti imam dalam tawarruknya?

Ada perbedaan pendapat dalam masalah ini:

Pendapat pertama: makmum diperintahkan untuk duduk sesuai keadaan imamnya, sehingga ketika imamnya di tasyahud akhir, berarti duduknya makmum tawarruk. ini disebutkan oleh para ulama dari madzhab hambali.

Dalam Al-Iqna’ dan syarahnya Kasysyaful Qina’ [1/462] di sebutkan:

(وَيَتَوَرَّكُ) الْمَسْبُوقُ (مَعَ إمَامِهِ) فِي مَوْضِعِ تَوَرُّكِهِ … فعلى هذا، لو أدرك ركعتين من رباعية، جلس مع الإمام متوركا؛ متابعة له في التشهد الأول، وجلس بعد قضاء الركعتين أيضا متوركا؛ لأنه يعقبه سلامه.

“Seorang masbuq itu duduk tawarruk bersama imamnya di tempat tawarruknya imam … maka berdasarkan penjelasan ini, apabila makmum mendapati dua rekaatnya imam di shalat yang empat rekaat, maka untuk tasyahud awalnya dia duduk bersama imam secara tawarruk, karena mengikuti imamnya. Dan setelah menyelesaikan dua rekaatnya (yang ketinggalan) dia duduk secara tawarruk juga, karena setelah duduk itu ada salamnya”.

Dalil dari pendapat ini adalah keumuman hadits di atas, bahwa pada dasarnya seorang makmum itu diperintahkan untuk mengikuti imamnya.

Pendapat kedua: makmum duduk sesuai dengan keadaannya. Dan karena keadaannya bukan tasyahud akhir, maka duduknya iftirasy. Ini adalah pendapat mu’tamad dalam madzhab syafii. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan:

المسبوق إذا جلس مع الإمام في آخر صلاة الإمام فيه وجهان . الصحيح المنصوص في الأم ، وبه قطع الشيخ أبو حامد والبندنيجي والقاضي أبو الطيب والغزالي والجمهور : يجلس مفترشا ; لأنه ليس بآخر صلاته

“Seorang yang masbuq apabila duduk bersama imamnya di akhir shalatnya imam, dalam masalah ini ada dua wajah (pendapat). Yang shahih yang disebutkan (Imam Syafii) dalam Kitab Al-Umm adalah: dia duduk secara Iftirasy, karena itu bukanlah akhir shalatnya (makmum). Pendapat ini ditegaskan oleh Syeikh Abu Hamid, Albandaniji, Alqodhi Abut Thayyib, Alghazali, dan Mayoritas ulama”. [Al-Majmu’ 3/451].

Inilah dua pendapat dalam masalah ini, dua-duanya berdasarkan dalil yang sahih. Pendapat pertama berdasarkan hadits “seseorang tidaklah dijadikan sebagai imam, kecuali untuk diikuti”. Sedang pendapat kedua berdasarkan hadits:

فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ اليُسْرَى، وَنَصَبَ اليُمْنَى، وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ اليُسْرَى، وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

“Apabila Nabi -shallallahu alaihi wasallam- duduk di rekaat kedua, beliau duduk secara iftirasy. Dan apabila beliau duduk di rekaat akhir, beliau duduk secara tawarruk”. [HR. Bukhari 828].

Manakah pendapat yang lebih kuat?

Penulis lebih menguatkan pendapat kedua, karena beberapa alasan:

Alasan Pertama: Adanya perbedaan keadaan antara imam dengan makmum. Imam dalam masalah ini sudah di akhir shalatnya, sedangkan makmum belum di akhir shalatnya. Dan dua keadaan ini memiliki konsekuensi yang berbeda terhadap bentuk duduknya orang yang shalat.

Adapun alasan mengikuti imam, maka itu masih bisa dilakukan dengan mengikuti gerakan duduknya imam secara global.

Perlu diketahui, bahwa menurut pendapat yang kuat: Bagian shalat yang dilakukan oleh makmum masbuq bersama imamnya adalah awal shalatnya, dan bagian shalat yang dilakukan oleh makmum setelah imamnya selesai adalah akhir shalatnya. Inilah pendapat yang dipilih dalam madzhab syafii sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah. [Lihat: Al-Majmu’ 4/220].

Dasar pendapat ini adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

 فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Maka shalatlah (bersama imam) pada bagian shalat yang kalian dapatkan. Sedangkan bagian yang terlewatkan (bersama imam), maka sempurnakanlah”. [HR. Bukhari: 635, Muslim: 602].

Sabda beliau “sempurnakanlah”, menunjukkan bahwa bagian shalat yang tidak didapatkan oleh makmum dari imamnya masih sesuai dengan waktunya, makanya tidak disebut sebagai qadha’, tapi disebut sebagai penyempurna. Dan redaksi inilah yang paling banyak disebutkan dalam riwayat-riwayat hadits ini. Ini menunjukkan bahwa bagian shalat yang tidak didapatkan oleh makmum masbuq dari imamnya adalah bagian akhirnya, bukan bagian awalnya. wallahu a’lam.

Alasan Kedua: Dengan pendapat kedua ini, seorang makmum bisa menerapkan dua dalil yang disebutkan di atas secara berimbang, yakni hadits: إنما جعل الإمام ليؤتم به dan hadits فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ اليُسْرَى، وَنَصَبَ اليُمْنَى … Sedangkan pendapat kedua, maka konsekuensinya hanya menerapkan hadits pertama dan meninggalkan hadits kedua.

Dan sebagaimana diketahui dalam kaidah ushul fikih, bahwa mengompromikan dalil lebih dikedepankan daripada hanya menggunakan salah satunya.

Alasan Ketiga: Adanya perbedaan antara “mengikuti gerakan imam secara global”, dengan “mengikuti gerakan imam secara detail”.

Dalam masalah mengikuti gerakan imam secara global, maka ini mudah dilakukan, dan inilah yang disebutkan dalam hadits perintah mengikuti imam. Adapun masalah mengikuti gerakan imam secara detail, maka tidak disebutkan dalam hadits tersebut, karena hal ini akan sangat memberatkan dan mengganggu kekhusyu’an makmum.

Lebih jelasnya, bisa dipahami dari uraian berikut ini:

Dalam posisi berdiri, di sana ada bentuk global dari gerakan itu, yaitu: “berdiri”, dan di sana ada detail-detail dari sifat gerakan itu, seperti: meletakkan tangan di atas dada, meletakkan telapak tangan kanan di atas lengan tangan kiri, mengarahkan pandangan ke arah tempat sujud, merenggangkan kaki saat berdiri, dst.

Jika dalam posisi berdiri, imam menghadapkan wajahnya ke depan, menjulurkan tangannya ke bawah, dan menempelkan kedua kakinya, karena dia berpendapat sunnahnya seperti itu, apakah makmum diperintahkan untuk mengikuti detail-detail dari sifat gerakan imamnya?

Tentunya tidak, makmum hanya diperintahkan untuk mengikuti gerakan imam secara globalnya saja, sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dalam hadits di atas, yakni: takbir, ruku’, sujud, berdiri, duduk, dst.

Demikian pula dalam masalah duduk tasyahud, di sana ada bentuk globalnya, yaitu “duduk”. Dan di sana ada detail-detail dari sifat gerakan itu, misalnya: duduknya tawarruk atau iftirasy, menggerak-gerakkan jari atau tidak, mengangkat jari telunjuk dari awal tahiyat atau saat membaca kalimat tauhid, dst.

Apakah makmum diperintahkan untuk mengikuti gerakan imam sampai dengan detail-detail gerakan itu? Tentunya tidak, makmum hanya diperintahkan untuk mengikuti bentuk globalnya saja. Adapun detail-detail dari gerakan itu, maka itu kembali kepada pendapat masing-masing makmum.

Syeikh Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan:

إذا كان الإمام لا يرى رفع اليدين والمأموم يرى ذلك فإنه يرفع يديه ولا حرج، لأنه لا يحصل بذلك مخالفة للإمام ولا تخلفٌ عنه. وكذلك في الجلوس، إذا كان الإمام لا يرى التورك، والمأموم يرى التورك أو بالعكس، فإنه لا يتابعه، لأنه لم يختلف عليه ولم يخالفه.

“Apabila imam berpendapat bahwa yang sunnah ‘tidak mengangkat dua tangan’, sedang makmum berpendapat yang sunnah ‘mengangkat dua tangan’, maka makmum (afdhalnya) mengangkat kedua tangannya dan itu tidak masalah. Karena hal itu tidak menjadikan dia menyelisihi imam dan tidak menjadikannya tertinggal dari imamnya.

Begitu pula ketika posisi duduk, jika imam berpendapat bahwa yang sunnah ‘tidak tawarruk’, sedang makmum berpendapat bahwa yang sunnah ‘tawarruk’, atau sebaliknya (yakni: imam berpendapat sunnahnya tawarruk, sedang makmum berpendapat sunnahnya tidak tawarruk), maka makmum tidak perlu mengikuti imamnya (dalam detail gerakan itu), karena hal itu tidak menjadikannya menyelisihi imam dan tidak menjadikannya tertinggal dari imam”. [Majmu’ Fatawa Al-Utsaimin 15/179].

Dan inilah pendapat yang sesuai dengan nilai Islam; “memberikan kemudahan kepada umatnya”. Coba bayangkan betapa beratnya, bila makmum diperintahkan untuk mengikuti detail-detail dari gerakan imam! Jika posisi makmum dekat dengan imam saja masih berat, bagaimana jika posisi makmumnya jauh dari imam?

Terlebih lagi, hal itu akan sangat mengganggu kekhusyu’an seorang makmum, karena dia harus memperhatikan terus detail-detail dari gerakan imam agar dia bisa mengikutinya dengan baik.

Dan berikut ini, penulis sertakan perkataan beberapa ulama kontemporer yang memilih pendapat ini, yakni seorang masbuq afdhalnya duduk iftirasy, walaupun imamnya duduk tawarruk:

  1. Syeikh Al-Utsaimin rahimahullah:

لو قدر أن أحداً من الناس دخل مع الإمام في صلاة الظهر في الركعة الثانية فإنه إذا تشهد الإمام التشهد الأخير سيبقى على هذا المسبوق ركعة فلا يتورك في هذه الحال لأن توركه وإن كان تشهداً أخيراً بالنسبة لإمامه لكنه ليس تشهداً أخيراً بالنسبة له فلا يتورك فيه مع الإمام.

“Seandainya ada seseorang masuk dalam shalat jamaah bersama imam di rekaat kedua shalat zhuhur, maka ketika imamnya tasyahud akhir; masih tersisa bagi makmum masbuq ini satu rekaat, sehingga dia tidak tawarruk dalam keadaan ini.

Karena tawarruknya imam, meski itu karena tasyahud akhirnya imam, tapi itu bukan tasyahud akhir bagi makmum, sehingga makmum tidak tawarruk bersama imam”. [Fatawa Nur Alad Darb Al-Utsaimin 8/2].

Beliau juga mengatakan:

وإذا كان الإمام يرى عدم رفع اليدين عند الركوع، وعند الرفع منه، وعند القيام من التشهد الأول، والمأموم يرى استحباب ذلك هل نقول للمأموم‏:‏ لا ترفع يديك كالإمام‏؟‏ فالجواب‏:‏ لا، ارفع يديك؛ لأن رفع يديك لا يقتضي مخالفة الإمام، فإنك سترفع معه، وتسجد معه وتقوم معه بخلاف الذي يقتضي المخالفة‏.‏

ولهذا لو كان الإمام لا يتورك في التشهد الأخير، أو كان يتورك في كل التشهد يعقبه تسليم، والمأموم يرى أنه يتورك في التشهد الأخير إذا كانت الصلاة ثلاثية، أو رباعية، فإنا نقول للمأموم‏:‏ افعل ما ترى أنه سنة، وإن خالفت إمامك في صفة الجلوس؛ لأن هذا لا يعد اختلافاً على الإمام‏.‏

“Apabila imam berpendapat tidak mengangkat kedua tangan: ketika ruku’, ketika bangkit dari ruku’, dan ketika berdiri dari tasyahud awal, sedangkan makmum berpendapat sunnahnya mengangkat kedua tangan di tempat-tempat itu, apakah kita katakan kepada makmum: ‘Jangan mengangkat kedua tanganmu seperti imam’? Maka jawabaannya: ‘tidak’. Tapi tetap angkat kedua tanganmu, karena mengangkat kedua tangan tidak melazimkan tindakan menyelisihi imam, karena engkau akan tetap mengangkat kepala bersama imam, bersujud bersamanya, bangkit bersamanya. Berbeda jika tindakan makmum melazimkan tindakan menyelisihi imam.

Oleh karenanya, apabila imam tidak tawarruk di tasyahud akhir, atau dia tawarruk di semua duduk tasyahud yang setelahnya ada salam, sedangkan makmum berpendapat bahwa tawarruk itu di duduk terakhir shalat yang rekaatnya tiga atau empat, maka kita katakan kepada makmum tersebut: ‘lakukanlah amalan yang menurutmu itu sunnah, meski engkau berbeda dengan imammu dalam sifat duduknya, karena ini tidak dianggap sebagai tindakan menyelisihi imam”. [Majmu Fatawa Al-Utsaimin 15/152].

  1. Al-Lajnah Addaimah mengatakan:

فإذا كان المأموم مسبوقًا ودخل مع الإمام في الركعة الثانية فإنه إذا جلس الإمام للتشهد الأخير سيبقى على هذا المسبوق ركعة فلا يتورك في هذه الحال

“Jika makmum masbuq, dan masuk dalam shalat bersama imam di rekaat kedua, maka ketika imamnya duduk untuk tasyahud akhir, akan tersisa bagi makmum yang masbuq ini satu rekaat, sehingga dia tidak tawarruk dalam keadaan ini”. [Fatawa Allajnah Addaimah 1/350].

  1. Syeikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah:

Beliau pernah ditanya: jika ada orang masuk shalat bersama imam, dalam keadaan masbuq dua rekaat -misalnya-, maka jika imamnya tasyahud akhir dan duduk tawarruk, maka apakah yang lebih afdhal bagi dia, duduk tawarruk atau duduk iftirasy?.

Maka beliau menjawab: “(Afdhalnya) dia duduk iftirasy, karena tasyahud itu bagi dia adalah tasyahud awal, maka (afdhalnya) dia duduk iftirasy”. [http://alfawzan.ws/node/12587]

Jika ditanya apa hikmah disyariatkannya dua jenis duduk dalam shalat ini, Imam Nawawi -rahimahullah- mengatakan:

“Sahabat-sahabat kami mengatakan: hikmah disyariatkannya duduk iftirasy di tasyahud awal dan duduk tawarruk di tasyahud kedua adalah:

(a) karena itu lebih memudahkan orang dalam mengingat jumlah rekaat shalatnya.

(b) karena yang sunnah adalah menyingkat tasyahud awal, maka duduknya (sebaiknya) iftirasy, karena itu akan lebih memudahkan dia untuk berdiri (setelahnya). Dan karena yang sunnah adalah memanjangkan tasyahud kedua, maka duduknya tawarruk, karena itu lebih membantu dan memantapkan dia untuk memanjangkan doanya.

(c) Dan karena seorang yang masbuq, jika dia melihat imamnya duduk tasyahud, dia akan tahu; di tasyahud berapakah imamnya duduk”. [Al-Majmu’ 3/451].

Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, Aamiin.

 

MUSYAFFA AD-DARINY

22 Rabiul Awwal 1440H / 30 November 2018

  

 

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.