Pertanyaan

            Seorang ayah menulis wasiat kepada istri dan anak-anak untuk pembagian hartanya. Apakah hukum wasiat ini ?

 

Jawaban

            Wasiat berasal dari Bahasa Arab al-Washiyyah yang bermakna berjanji kepada seseorang atau mengharuskan kepadanya. (Al-Mu’jam Al-Washith,  1/1343)

Imam Ibnu Qudamah mengatakan, wasiat dengan harta yang dimilikinya itu artinya “Pesan untuk menyalurkan harta tersebut setelah kematiannya.” (Al-Mughni, Imam Ibnu Qudamah, 8/389)

Contoh dari pengertian wasiat ini seperti ucapan seseorang semasa hidupnya, “Jika aku meninggal dunia berikan kepada si fulan 1.000.000 Rupiah”.

Sebagian ulama lain mengartikan juga dengan ungkapan, “perintah untuk melakukan sesuatu setelah kematiannya”.

Contoh dari pengertian wasiat yang kedua ini seperti ucapan seseorang semasa hidupnya, “Jika aku meninggal dunia aku mewasiatkan kepada anakku yang kecil untuk melakukan ini dan ini …” (Asy-Syareh Al-Mumti’, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 11/134)

Dari kedua pengertian wasiat di atas dapat disimpulkan beberapa hal penting berkaitan dengan wasiat:

  1. Wasiat itu pesan seseorang semasa hidupnya kepada keluarga dan karib kerabatnya.
  2. Wasiat itu akan dikerjakan dan direalisasikan setelah yang memberi wasiat meninggal dunia.
  3. Wasiat dapat berupa:
  4. Berwasiat untuk memberikan harta dalam jumlah atau asset tertentu kepada orang tertentu
  5. Hak dan kewajiban. Berwasiat untuk membayarkan hutangnya, atau mengurusi anak-anaknya yang masih kecil, atau mengembalikan barang yang diamahkan atau dititipkan kepadanya.

Para ulama memang mensyariatkan wasiat, artinya dianjurkan bagi seorang muslim semasa dia hidup untuk berpesan kepada orang-orang dekatnya melakukan sesuatu setelah dia meninggal dunia. Hal ini berdasarkan firman Allah,

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا ٱلْوَصِيَّةُ لِلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ بِٱلْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى ٱلْمُتَّقِينَ

            “Diwajibkan atas kalian apabila seseorang diantara kalian kedatangan tanda-tanda kematian, jika dia meninggalkan harta yang banyak berwasiat dengan baik kepada kedua orang tuanya dan kerabatnya. Ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Albaqarah 180).

            Kasus yang sering terjadi di masyarakat seperti yang dipaparkan di atas. Di mana seseorang berwasiat dengan harta yang dimilikinya kepada istri atau suami dan juga kepada anak-anaknya.

            Dalam kasus seperti ini terdapat hadits shahih dari sahabat Abu Umamah bahwa Rasulullah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ ، فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ 

“Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada pemilik hak haknya, oleh karena itu tidak boleh berwasiat kepada ahli waris.” (H.R Abu Dawud 2870, Tirmidzi 2120, An-Nasai 4641, Ibnu Majah 2713. Hadits di shahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).

            Maksud dari hadits ini, Allah telah memberikan bagian tertentu kepada para ahli waris dari harta peninggalan pewaris, dan itu akan menjadi hak mereka. Oleh karena itulah pemberian wasiat kepada mereka itu terlarang. Artinya mereka akan mendapatkan harta dari dua jalur, jalur wasiat dan dan jalur waris. Imam Ibnu Qudamah menyebutkan alasan kenapa dilarang berwasiat kepada ahli waris, “hal itu akan menimbulakan permusuhkan dan hasad di antara mereka…” (Al-Mughni 8/396)

            Berdasarkan hadits Abu Umamah di atas para ulama melarang, bahkan mengharamkan wasiat kepada ahli waris, artinya wasiat seperti ini tidak boleh disampaikan, kalau sudah terjadi, maka ahli waris tidak boleh melaksanakan wasiat seperti ini.      

            Mungkin ada yang mengatakan, bagaimana dengan ayat di atas yang membolehkan wasiat kepada kedua orang tua dan kerabat. Para ulama mengatakan bahwa ayat di atas tentu diperjelas oleh hadits Abu Umamah, dan inilah kaidah dalam syariah. Berarti yang dimaksud dengan kerabat disini adalah kerabat yang bukan ahli waris, dan kedua orang tua yang bukan ahli waris seperti orang tua yang beda agama.

            Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya-tanya adakah solusi dari permasalah ini ?. Sebetulnya permasalahan ini ada solusinya.

  1. Jika terdapat wasiat seperti itu maka hukumnya seperti yang dijelaskan di atas.
  2. Harta peninggalan pewaris dihitung sesuai perhitungan syariah di dalam al-Quran dan hadits.
  3. Setelah masing-masing dari ahli waris mengetahui haknya dari harta tersebut selanjutnya diserahkan kepada mereka untuk memberikan haknya atau tidak.

 

NIZAR SAAD JABAL

5-10-2018 / 25 MUHARRAM 1440H

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.