Bolehnya Aqiqah Setelah Dewasa

Jika seseorang telah dewasa dan belum diaqiqahkan, apakah tetap disyariátkan untuk tetap diaqiqahkan?

Maka ada beberapa pendapat di kalangan para ulama :

Pertama : disunnahkan untuk tetap mengaqiqahkan dirinya sendiri, karena aqiqah sunnah yang sangat ditekankan, dan dirinya tergadaikan dengan aqiqah tersebut.

Kedua : Tidak wajib aqiqah atas dirinya dan tidak disyariátkan ia mengaqiqahkan dirinya sendiri, karena aqiqah adalah sunnah yang ditujukan kepada ayah saja

Ketiga :  Tidak mengapa ia mengaqiqahkan dirinya sendiri, namun tidak dikatakan bahwa itu dianjurkan, karena hadits-hadits tentang aqiqah tertujukan kepada ayah atau yang menangguh nafkahnya. (Lihat kesimpulan tiga pendapat ini di Majmuu’ Fataawaa Bin Baaz 26/267)

Pendapat pertama dipilih oleh Ibnu Sirin dan al-Hasan Al-Bashri (lihat al-Istidzkaar, Ibnu Abdilbarr 5/315)

Adapun dalil-dalil pendapat pertama :

Pertama : Keumuman hadits :

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُمَاطُ عَنْهُ الْأَذَى، وَيُسَمَّى

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelih aqiqahnya pada hari ketujuh dan dicukur rambutnya dan diberi nama” (HR Ahmad no 20188 dan Ibnu Majah no 3165 dari al-Hasan dari Samuroh bin Jundub, dishahihkan oleh Al-Albani dan al-Arnaúuth)

Hadits ini tidak mengkhususkan bahwa perkara aqiqah hanya ditujukan kepada sang ayah. Oleh karenanya tidak mengapa jika yang mengaqiqahkan adalah selain ayahnya bahkan dirinya sendiri. Karena fokus hadits ini adalah setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya.

Demikian juga hadits ini tidak mengkhususkan waktu tertentu atau umur tertentu bagi sang anak, maka selama sang anak belum diaqiqahkan maka ia masih tergadaikan dengan aqiqahnya. Sehingga boleh ia diaqiqahkan meskipun setelah dewasa.

Kedua : Hadits khusus yang merupakan nash dalam permasalahan ini. Anas bin Malik berkata :

أَن النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّم عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ مَا بُعِثَ نَبِيًّا

“Sesungguhnya Nabi mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah beliau diangkat menjadi Nabi” (HR Abdurrozzaq di al-Mushonnaf no 7960, Al-Bazzaar no 7281, At-Thobroni di al-Mu’jam al-Washith no 994, Al-Baihaqi di As-Sunan al-Kubro no 19273)

Akan tetapi hadits ini diperselisihkan oleh para ulama akan kevaliditasannya. Mayoritas ulama menyatakan hadits ini adalah lemah karena pada sanadnya ada perawi yang bernama Abdullah bin al-Muharror. Diantara yang mendhoífkan adalah Al-Imam Malik (Al-Bayaan wa at-Tahshiil 3/392), al-Baihaqi (As-Sunan al-Kubro 9/505), Al-Bazzaar (Musnad Al-Bazzaar 13/478), Ibnu Hajar (Fathul Baari 9/595). An-Nawawi berkata :

فهو حديث باطل وعبد الله ابن محرر ضعيف متفق على ضعفه قال الحفاظ هو متروك والله أعلم

“Maka ini adalah hadits yang batil, dan Abdullah bin Muharror dhoíf, disepakati akan ke -dhoífan- nya. Para hafiz (pakar hadits) menyatakan ia adalah orang yang matruuk (ditinggalkan periwayatannya), wallahu a’lam” (Al-Majmuu’ 8/432)

Bahkan sebagian ulama menyatakan dengan tegas bahwa diantara kesalahan Abdullah bin Muharror ialah hadits tentang aqiqah ini.

Abdurrozzaq as-Shonáani berkata :

إِنَّمَا تَرَكُوا عَبْدَ اللهِ بْنَ مُحَرَّرٍ لِحَالِ هَذَا الْحَدِيثِ

“Sesunggunya mereka meninggalkan (periwayatan) Abdullah bin Muharror dikarenakan hadits ini” (sebagaimana dinukil oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro 9/505)

Adz-Dzahabi berkata :

وَمِنْ بَلاَيَاهُ: رَوَى عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ مَا بُعِثَ

“Diantara bencana Abdullah bin Muharror adalah ia meriwayatkan dari Qotadah dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah shallallahu álaihi wasallam mengaqiqahkan dirinya sendiri setelah diangkat menjadi Nabi” (Mizaanul I’tidaal 2/500)

Diantara yang menshahihkan adalah al-Haafiz ad-Dhiyaa’ al-Maqdisi di al-Ahaadiits al-Mukhtaaroh no 1883 dan Al-Albani di As-Shahihah 6/502 no 2726.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama yang mendoifkan hadits ini hanya memandang pada periwayatan Abdullah bin Muharror yang disepakati akan kedhoífannya. Namun hadits ini memiliki jalur lain, yaitu dari periwayatan : al-Haitsam bin Jamiil dari Abdullah bin Al-Mutsanna bin Abdillah bin Anas dari Tsumaamah bin Abdillah bin Anas dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu (HR At-Thohawi di Syarh Musykil al-Aatsaar no 1053, At-Thobroni di al-Mu’jam al-Awshoth no 994, Ibnu Hazm di Al-Muhalla 6/239 dan Ad-Dhiyaa’ di Al-Ahaadits Al-Mukhtaaroh no 1833)

Seluruh perawinya adalah tsiqoh kecuali Abdullah bin Al-Mutsanna maka ada perselisihan di kalangan para ulama. Namun al-Imam al-Bukhari menjadikannya hujjah dalam shahihnya jika Abdullah bin Al-Mutsanna meriwayatkan dari pamannya yaitu Tsumamah bin Abdillah bin Anas. Sehingga ada beberapa hadits([1]) yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam shahihnya melalui jalur Abdullah bin Al-Mutsanna dari pamannya Tsumaamah. Adapun periwayataannya dari selain pamannya (diantaranya dari Tsaabit al-Bunaani dan dari Abdullah bin Diinar) maka al-Imam Al-Bukhari dengan muta’baáh (lihat Huda as-Saari/muqoddimah Fathil Baari hal 416)

Dan tidak seorangpun dari para ulama yang mendhoífkan hadits “Nabi mengaqiqahkan dirinya sendiri” kecuali mereka hanya mengkritik periwayatan Abdullah bin Muharror, adapun periwayatan Abdullah bin al-Mutsanna dari Tsumaamah maka tidak mereka kritik sama sekali kecuali yang diisyaratkan oleh Ibnu hajar. Namun pernyataan al-Hafiz Ibnu Hajar tentang Abdullah bin al-Mutsanna kontradiktif. Beliau berkata :

وَعَبْدُ اللَّهِ مِنْ رِجَالِ الْبُخَارِيِّ فَالْحَدِيثُ قَوِيُّ الْإِسْنَادِ … فَلَوْلَا مَا فِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُثَنَّى مِنَ الْمَقَالِ لَكَانَ هَذَا الْحَدِيثُ صَحِيحًا لَكِنْ قَدْ قَالَ بن مَعِينٍ لَيْسَ بِشَيْءٍ وَقَالَ النَّسَائِيُّ لَيْسَ بِقَوِيٍّ وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ لَا أُخْرِجُ حَدِيثَهُ وَقَالَ السَّاجِيُّ فِيهِ ضَعْفٌ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ رَوَى مَنَاكِيرَ وَقَالَ الْعُقَيْلِيُّ لَا يُتَابَعُ على أَكثر حَدِيثه قَالَ بن حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ رُبَّمَا أَخْطَأَ وَوَثَّقَهُ الْعِجْلِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُمَا فَهَذَا مِنَ الشُّيُوخِ الَّذِينَ إِذَا انْفَرَدَ أَحَدُهُمْ بِالْحَدِيثِ لَمْ يَكُنْ حُجَّةً

“Dan Abdullah bin al-Mutsanna termasuk para perawi di shahih al-Bukhari, maka hadits ini (Nabi mengaqiqahkan dirinya) sanadnya kuat… kalaulah bukan karena kritikan seputar Abdullah bin al-Mutsanna tentu hadits ini adalah hadits yang shahih…(lalu beliau menyebutkan khilaf ulama tentang kredibiltas Abdullah bin al-Mutsanna, setelah itu belieu berkesimpulan)… maka Abdullah bin al-Mutsanna termasuk para perawi yang jika salah seorang dari mereka bersendirian dalam periwayatan hadits maka tidak bisa dijadikan hujjah” (Fathul Baari 9/595)

Di awal pernyataan, beliau menyatakan bahwa periwayataan Abdullah bin al-Mutsanna adalah isnadnya kuat karena Abdullah bin al-Mutsanna termasuk para perawi yang dijadikan hujjah oleh al-Bukhari dari shahihnya. Namun di akhir pernyataan, beliau menyatakan bahwa Abdullah bin al-Mutsanna jika bersendirian maka tidak bisa dijadikan hujjah.

Akan tetapi telah lalu penjelasan Ibnu Hajar di Huda as-Saari bahwasanya Abdullah bin al-Mutsanna tidak bisa jadi hujjah jika ia meriwayatkan dari selain pamannya, akan tetapi jika ia meriwayatkan dari pamannya (Tsumaamah) maka periwayatannya adalah hujjah, sebagaimana dijadikan hujjah oleh Al-Bukhari dalam shahihnya dalam 10 hadits.

Terlebih lagi ternyata Abdullah bin Al-Mutsanna tidak besendirian dalam meriwayatkan hadits ini, akan tetapi beliau dimutabaáh oleh Qotadah dengan perwiyatan : Ismaíl bin Muslim dari Qotadah dari Anas bin Malik. (sebagaimana riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Hajar di Fathul Baari 9/595). Dan Ismaíl bin Muslim al-Makki Abu Ishaq al-Bashri, asalnya dari Bashroh lalu menetap di Mekah, meskipun ia adalah perawi yang dhoíf akan tetapi ia bukanlah muttaham (tertuduh dusta) dan juga bukan matruuk. Abu Hatim Ar-Raazi (dan ia termasuk mutasyaddid) berkata tentangnya

إِسْمَاعِيْلُ هُوَ ضَعِيْفُ الْحَدِيْثِ لَيْسَ بِمَتْرُوْكٍ، يُكْتَبُ حَدِيْثُهُ

“Ismaíl dhoíf haditsnya, bukan matruk, dan ditulis haditsnya” (Al-Jarh wa At-Ta’diil, Ibnu Abi Haatim 2/199)

Yaitu masih  bisa ditulis haditsnya untuk penguat. (lihat As-Shahihah, Al-Albani 6/505)

Ketiga :  Amalan para salaf.

Diantara yang berpendapat dengan pendapat ini adalah Ibnu Sirin, beliau berkata :

لَوْ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُعَقَّ عَنِّي لَعَقَقْتُ عَنْ نَفْسِي

“Seandainya aku tahu bahwasanya aku belum diaqiqahkan maka aku akan mengaqiqahkan diriku sendiri” (Mushonnfaa Ibni Abi Syaibah no 24236)

Demikian juga al-Hasan al-Bashri beliau berkata,

إذَا لَمْ يُعَقَّ عَنْك فَعُقَّ عَنْ نَفْسِك وَإِنْ كُنْت رَجُلًا

“Jika engkau belum diaqiqahkan maka aqiqahkan dirimu sendiri, bahkan meskipun engkau telah dewasa” (Al-Muhalla 6/240, sanadnya dihasankan oleh Al-Albani)

Pendapat kedua dipilih oleh Al-Imam Malik. Yang masyhur dari beliau bahwasanya tidak diaqiqahkan kecuali hari ke 7 dari hari kelahiran (lihat At-Tamhiid, Ibnu Abdilbarr 4/312). Jika telah lewat maka sudah lewat waktu untuk aqiqah, maka tidak disyariátkan lagi aqiqah (lihat al-Bayaan wa at-Tahshiil 3/391), apalagi setelah dewasa.

Adapun dalilnya :

Pertama : Kewajiban aqiqah berkaitan dengan bapaknya sang anak bukan kepada sang anak, maka tidak disyariátkan bagi sang anak.

Kedua : Kewajiban aqiqah ditentukan waktunya yaitu hari ke 7. Karena dalam hadits disebutkan

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelih aqiqahnya pada hari ketujuh

Maka jika sudah lewat waktunya maka tidak disyariátkan lagi. (lihat Bidayatul Mujtahid 3/15)

Ketiga : Tidak diriwayatkan bahwasanya para sahabat yang belum diaqiqah tatkala jahiliyah mereka mengaqiqahkan diri mereka sendiri

Imam Malik berkata,

أرأيتَ أصحابَ النَّبِيِّ – صلّى الله عليه وسلم – الّذين لم يُعَقّ عنهم في الجاهليَّةِ، أَعَقُّوا عن أَنفسهم في الإسلام؟

“Tidakkah engkau bahwasanya para sahabat yang belum diaqiqahkan di zaman jahiliyah, apakah mereka mengaqiqahkan diri mereka sendiri setelah masuk Islam?” (Al-Masaalik fi Syarh Muwattho’ Malik 5/330)

 

Pendapat ketiga : Tidak disunnahkan untuk aqiqah jika telah lewat 7 atau 14 hari, apalagi setelah dewasa. Akan tetapi siapa yang melakukannya maka tidak mengapa dan ia telah melakukan sesuatu yang baik.

Diantara yang berpendapat demikian adalah al-Imam Ahmad. Beliau ditanya tentang seseorang yang ayahnya mengabarkan kepadanya bahwa ayahnya belum mengaqiqahkannya, apakah ia mengaqiqahkan dirinya sendiri?. Imam Ahmad berkata, ذَلِك على الْأَب “Itu kewajiban atas sang ayah”. Dalam riwayat yang lain beliau berkata, إِنْ فَعَلَهُ إِنْسَانٌ لَمْ أَكْرَهْهُ “Jika dilakukan oleh seseorang (mengaqiqah setelah dewasa -pen) maka aku tidak membencinya”. Dalam riwayat lain beliau juga berkata, وَمَنْ فَعَلَهُ فَحَسَنٌ “Barang siapa yang melakukannya maka baik” (Lihat Tuhfatul Maudud, Ibnul Qoyyim hal 87-88)

Demikian juga Al-Laits bin Saád (lihat Dzakhiirotul Úqbaa 32/352)

Demikian juga madzhab Syafií, mereka memandang bahwa disyariátkannya aqiqah ada waktunya. Sebagian berpendapat bahwa jika sudah lewat hari ke 7 maka tidak disyariátkan lagi, sebagian berpendapat jika masa nifas telah selesai maka tidak disyariátkan lagi (lihat al-Haawi al-Kabiir 15/129), sebagian berpendapat hingga minggu ketiga, sebagian berpendapat hingga sebelum dewasa (lihat Al-Majmuu’ 8431). Namun Batasan-batasan waktu di atas adalah berkaitan dengan yang menanggung nafkah sang anak (baik ayahnya, atau ibunya, atau kakeknya atau neneknya) untuk mengaqiqahkannya. Adapun jika setelah dewasa sang anak ingin mengaqiqahkan dirinya sendiri maka terserah dirinya (lihat al-Majmuu’ 8/431)

Pendapat yang lebih raajih (kuat) adalah pendapat pertama karena kuatnya dalil-dalil mereka. Wallahu a’lam bis-showaab.

FIRANDA ANDIRJA

18 Jumadal ‘Ula 1440H / 24 Januari 2019


([1]) Ada 10 hadits di Shahih al-Bukhari dari periwayatan Abdullah bin al-Mutsanna dari pamannya Tsumaamah.  (yaitu hadits no 94, 1010, 1454, 2487, 3106, 4783, 5879, 6281, 6955, dan 7155)

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.