BOLEHKAH MENJADIKAN MAKMUM MASBUQ SEBAGAI IMAM?

Seringkali kita melihat ada orang baru masuk masjid ketika imam selesai shalat, dan pada saat yang sama banyak makmum yang masbuq menyelesaikan sisa shalatnya, akhirnya orang yang baru masuk tersebut memilih salah satu makmum yang masbuq tersebut untuk dia jadikan sebagai imam, apa hal ini diperbolehkan dalam syariat?

Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini -wallahu a’lam- adalah pendapat yang mengatakan bolehnya menjadikan makmum masbuq sebagai imam, setelah kebersamaannya dengan imamnya selesai.

Hal ini ditunjukkan oleh banyak dalil, diantaranya:

Pertama: Nabi -shallallahu alahi wasallam- pernah shalat malam sendiri, kemudian datang sahabat Jabir bin Abdullah dan shalat bermakmum dengan beliau.

قال جابر: فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ … ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَدَارَنِي حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ [م 3010]

Sahabat Jabir -radhiallahu anhu- berkata: “maka Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pun berdiri untuk shalat … kemudian aku datang hingga aku berdiri di samping kiri Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, maka beliau pun menarik tanganku dan mengalihkan posisiku hingga aku berdiri di samping kanan beliau”. [HR. Muslim: 3010].

Kedua: Pernah juga beliau shalat malam sendiri, kemudian datang sahabat Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- dan shalat bersama beliau.

قَالَ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: نِمْتُ عِنْدَ مَيْمُونَةَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي، فَقُمْتُ عَلَى يَسَارِهِ، فَأَخَذَنِي، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ [خ 698، م 763]

Sahabat Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- berkata: “Aku pernah tidur malam di rumah (ibunda) Maimunah, dan di malam itu Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersama dia, maka beliau berwudlu, kemudian berdiri untuk shalat. Kemudian aku pun shalat di sebelah kiri beliau, maka beliau menarikku dan menjadikanku di sebelah kanan beliau. [HR. Bukhari 698, dan Muslim 763].

Ketiga: bahkan hal itu pernah terjadi pada banyak sahabat -radhiallahu anhum- dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam-, sebagaimana disebutkan oleh Ibunda Aisyah, dan sahabat Anas -radhiallahu anhuma-:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فِي حُجْرَتِهِ، وَجِدَارُ الحُجْرَةِ قَصِيرٌ، فَرَأَى النَّاسُ شَخْصَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلاَتِهِ [خ 729]

Ibunda Aisyah -radhiallahu anha- berkata: “Dahulu Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pernah shalat malam di kamarnya, sedang dinding kamarnya pendek, sehingga orang-orang bisa melihat Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, maka beberapa orang (akhirnya) ikut shalat bersama beliau”. [HR. Bukhari 729].

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ، فَجِئْتُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ وَجَاءَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَامَ أَيْضًا حَتَّى كُنَّا رَهْطًا، فَلَمَّا حَسَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّا خَلْفَهُ جَعَلَ يَتَجَوَّزُ فِي الصَّلَاةِ [م 1104]

Sahabat Anas -radhiallahu anhu- berkata: “Dahulu Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pernah shalat (malam) di bulan Ramadhan, maka aku pun datang dan berdiri (shalat) di samping beliau, lalu ada orang lain datang lagi dan berdiri juga (untuk shalat bersama), hingga kami menjadi banyak. Maka ketika Nabi -shallallahu alaihi wasallam- tahu aku di belakang beliau, beliau meringkas shalatnya”. [HR. Muslim 1104].

Sisi pendalilan semua hadits di atas: Dalam kasus-kasus di atas, Nabi -shallallahu alaihi wasallam- asalnya shalat dalam keadaan sendiri, kemudian setelah itu datanglah sahabat beliau untuk ikut shalat bersama beliau, menjadikan beliau sebagai imamnya. Dan keadaan ini sama dengan keadaan seorang makmum masbuq yang imamnya sudah selesai shalat, dia menjadi orang yang shalat dalam keadaan sendiri, lalu ada orang lain yang menjadikannya sebagai imam. Maka harusnya hal ini dibolehkan sebagaimana Nabi -shallallahu alaihi wasallam- membolehkan para sahabat menjadikan beliau sebagai imam di tengah-tengah shalat beliau, wallahu a’lam.

Keempat: masalah ini mirip dengan masalah “jika imam batal shalatnya, atau tidak bisa meneruskan shalatnya karena suatu udzur, maka harus ada seorang makmum yang menggantikan posisi imamnya”. Hal ini sebagaimana peristiwa yang terjadi pada sahabat Umar bin Khatthab, ketika beliau ditusuk saat sedang shalat, beliau menarik tangan Abdurrahman bin Auf untuk menggantikannya sebagai imam [HR. Muslim: 3700]. Dan ini beliau lakukan di hadapan para sahabat yang lain, tanpa ada yang mengingkari beliau, sehingga bisa dianggap sebagai Ijma’ para sahabat akan bolehnya hal itu, wallahu a’lam.

Jika ini boleh dan tidak dipermasalahkan, maka harusnya masalah yang sedang kita bahas juga demikian hukumnya.

Kelima: karena ketika kebersamaan makmum masbuq dengan imamnya telah selesai, maka dia dihukumi sebagai orang yang shalat sendiri, dan orang yang shalat sendiri boleh dijadikan sebagai imam.

Karena kuatnya pendapat ini, maka banyak dari ulama di zaman ini yang memilih pendapat ini, diantaranya Syeikh Binbaz dan Syeikh Al-Utsaimin -rahimahumallah-.

قال الشيخ ابن باز: إذا دخل المسبوق المسجد وقد صلى الناس ووجد مسبوقاً يصلي: شُرِعَ له أن يصلي معه، ويكون عن يمين المسبوق، حرصاً على فضل الجماعة، وينوي المسبوق الإمامة، ولا حرج في ذلك في أصح قولي العلماء. وهكذا لو وجد إنساناً يصلي وحده بعد ما سلم الإمام: شُرِعَ له أن يصلي معه، ويكون عن يمينه تحصيلاً لفضل الجماعة. [مجموع فتاوى ابن باز 12/148]

Syeikh Binbaz mengatakan: “Bila ada orang, saat dia masuk masjid mendapati orang-orang sudah selesai shalatnya, dan mendapati ada orang masbuq masih shalat: maka disyariatkan baginya untuk shalat bersamanya, dan dia berdiri di sebelah kanan orang yang masbuq tersebut, untuk mendapatkan keutamaan shalat berjamaah, dan orang yang masbuq bisa berniat menjadi imam, dan ini tidak masalah menurut pendapat ulama yang lebih shahih.

Begitu pula bila seseorang mendapati orang lain shalat sendirian (dari awal shalatnya) setelah imam selesai salam, maka disyariatkan baginya untuk shalat bersamanya, dan dia berdiri di samping kanan orang tersebut, untuk mendapatkan keutamaan shalat berjmaah”. [Majmu’ Fatawa Binbaz 12/148]

السؤال: رجلٌ فاتته بعض الركعات وأثناء قيامه ليأتي ما فاته بعد سلام الإمام دخل المسجد جماعة ثم قدموه للإمامة فهل يصح هذا العمل ؟ نعم، يصح هذا، ويكون هذا الرجل انتقل من كونه مأموما إلى كونه إماما. وإذا أتم صلاته، قام الداخلون وأتموا صلاتهم إذا أدركوه بعد الركعة الأولى. [فتاوى نور على الدرب للعثيمين 8/2]

Soal: Ada orang yang ketinggalan sebagian rakaat, dan di tengah-tengah dia menyempurnakan shalatnya setelah imamnya salam, ada sekelompok orang masuk masjid dan menjadikannya sebagai imam, apakah praktek seperti ini dibenarkan?

Jawaban Syeikh Al-Utsaimin -rahimahullah-: “Iya, seperti ini boleh. Dan orang ini berubah keadaannya, dari yang asalnya makmum menjadi imam. Nanti ketika orang ini telah menyempurnakan shalatnya, maka sekelompok orang tadi harus menyempurnakan shalat mereka jika mereka mendapati orang ini setelah rekaat pertama”. [Fatawa Nur Alad Darb lil Utsaimin 8/2].

Kemudian, meski kita tahu hal ini dibolehkan, tapi tetap saja yang lebih afdhal bagi kita, bila mendapati imam telah selesai shalatnya adalah menunggu orang lain yang keadaannya sama dengan kita untuk shalat bersama, sehingga kita bisa shalat berjamaah dari awal hingga akhir shalat, dan imamnya pun bisa meniatkan dirinya menjadi imam dari awal hingga akhir shalat.

Tentunya hal ini bisa dilakukan, bila kita bisa mendapatkan orang lain yang seperti kita. Jika kita tidak mendapatkan orang lain yang seperti kita, maka pilihan kedua adalah menjadikan makmum yang masbuq sebagai imam, sebagaimana hukumnya telah kita ketahui dari penjelasan di atas, wallahu a’lam.

Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

MUSYAFFA AD DARINY

5 Rabbiul Akhir 1440H / 12 Desember 2018

 

2 Responses
  1. abu ahmad

    Baarakallahufiik,kalau kasusnya setelah makmum selesai ada beberapa makmum masbuk,dan menjadikan salah satunya sebagai imam gimana ust?jadi sebelumnya sama2 makmum masbuk,hal ini beberapa kali ana temui walaupun nggak ikutan karena belum tahu dalilnya, syukran…

    1. admin

      Waalaikumussalam, afwan untuk penjelasannya silahkan tanya langsung kepada ustadz yang bersangkutan dengan menggunakan aplikasi Halo Ustadz. Karena admin, tidak memiliki kapasitas untuk menjawab. baarakallah

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.
Ar- Rahmaan