DO’A ZIARAH KE KUBURAN RASULULLAH صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Secara umum seorang muslim dianjurkan untuk berziarah kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“Aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur, maka (sekarang) ziarahlah kubur” (HR Muslim no 977)

Dalam riwayat yang lain

 فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ

“Karena ziarah kubur akan mengingatkan kalian kepada akhirat” (HR Ibnu Majah no 1569)

Jika seseorang tiba di kota Madinah maka disunnahkan baginya untuk menziarahi kuburan diantaranya kuburan Nabi shallallahu álaihi wasallam.([1]) Sekaligus juga menziarahi kuburan dua sahabatnya yaitu Abu Bakar dan Umar yang dikuburkan bersama Nabi shallallahu álaihi wasallam.

Adapun tata caranya maka sebagai berikut :

  • Ia berdiri menghadap kuburan Nabi shallallahu álaihi wasallam dengan penuh adab dan suara yang rendah lalu mengucapkan salam kepada Nabi([2]) dengan berkata

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Assalaamu ‘alaika yaa Rasulallah warahmatullahi wa barokaatuh

“Keselamatan atasmu wahai Rasulullah dan rahmat Allah serta keberkahanNya atasmu”

Tidak mengapa jika ia menambahkan dengan perkataan

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ المْرُسْلَيْنَ وَإِمَامَ الْمُتَّقِيْنَ أَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ وَنَصَحْتَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدْتَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهَاِدِهِ، فَجَزَاكَ اللهُ عَنْ أُمَّتِكَ أَفْضَلَ مَا جُزِي نَبِيٌّ عَنْ أُمَّتِهِ

Assalaamu ‘alaika yaa Sayyidal mursaliin wa imaamil muttaqiin, asyhadu annaka qod ballagh tar risaalah wa addaital amaanah wa nashohtal ummah, wa jaahad ta fillahi haqqol jihaad, fa jazaakallahu ‘an ummatika afdhola maa juzia nabiyyun ‘an ummatihi

“Kesalamatan atas anda wahai penghulu para rasul dan pemimpin orang-orang yang bertakwa, aku bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan risalah Allah, engkau telah menunaikan amanah, engkau telah menasehati umat, dan engkau telah berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sesungguhnya. Semoga Allah membalas kebaikanmu atas umatmu dengan balasan yang terbaik yang diberikan kepada seorang nabi atas umatnya”

Dan tidak mengapa jika ditambah sholawat kepada Nabi. ([3])

  • Lalu ia bergeser sedikit ke kanan (sekitar setengah langkah) lalu ia mengucapkan salam kepada Abu Bakar dengan berkata

 السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu álaika yaa Abaa bakr as-Shiddiiq wa rahmatullahi wa barokaatuh

“Keselamatan atasmu wahai Abu Bakar as-Siddiiq dan rahmat Allah serta keberkahanNya atasmu”

Dan tidak mengapa jika ia tambahkan perkataan :

السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا خَلِيْفَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثاَنِيَهُ فِي الْغَارِ، جَزَاكَ اللهُ عَنَّا وَعَنِ الإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ خَيْرَ الْجَزَاءِ

Assalaamu álaika yaa Kholifata Rosulillah shallallahu álaihi wasallam wa tsaaniahu fil ghoor, jazaakallahu ánnaa wa áni islaam wal muslimiin khoirol jazaa’

“Keselamatan atas mu wahai khalifah (penerus) Rasulullah shallallahu álaihi wasallam, orang yang kedua bersama Nabi di goa (Tsaur), semoga Allah memberi ganjaran bagimu atas jasamu terhadap kami, terhadap Islam dan kaum muslimin dengan ganjaran yang terbaik”

  • Lalu ia bergeser sedikit ke kanan (sekitar setengah langkah([4])) lalu ia mengucapkan salam kepada Umar bin al-Khotthob dengan berkata

السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا عُمَرُ الْفَارُوْقُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalaamu álaika yaa Úmar al-Faaruuq wa rahmatullahi wa barokaatuh

“Keselamatan atasmu wahai Umar al-Faaruuq (sang pembeda antara kebenaran dan kebatilan) dan rahmat Allah serta keberkahanNya atasmu”

Dan tidak mengapa jika ia tambahkan :

السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا ثَانِيَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنِ، جَزَاكَ اللهُ عَنَّا وَعَنِ الإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ خَيْرَ الْجَزَاءِ

Assalaamu álaika yaa Tsaanial khulafaair roosyidiin, jazaakallahu ánnaa wa ánil islaam wal muslimiin khoirol jazaa’

“Keselamatan atas mu wahai khalifah yang kedua dari para al-Khulafaa’ ar-Rosyidin, semoga Allah memberi ganjaran bagimu atas jasamu terhadap kami, terhadap Islam dan kaum muslimin dengan ganjaran yang terbaik”

  • Setelah memberi salam kepada Nabi, Abu Bakar, dan Umar maka hendaknya langsung pergi dan tidak menetap di situ untuk memberikan kesempatan kepada jamaáh yang lainnya yang ingin memberi salam kepada Nabi dan kedua sahabatnya

————————————————————————————————————————————

([1]) Tidak ada dalil sama sekali yang memerintahkan untuk menziarahi kuburan Nabi shallallahu álaihi wasallam secara khusus. Semua dalil yang datang tentang hal ini adalah lemah dan palsu. Diantaranya hadits :

مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي

“Barang siapa yang haji dan tidak menziarahi aku maka ia telah kasar kepadaku”

Hadits ini dinyatakan palsu oleh banyak ulama, diantaranya Ibnul Jauzi (Al-Maudhuuáat 2/217), Adz-Dahabi (Mizaanul I’tidaal 3/237), as-Shonáani (al-Ahaadiits al-Maudhuuáh hal 6), dan as-Syaukaani (al-Fawaaid al-Majmuuáh fi al-Ahaadiits al-Maudhuuáh hal 42)

Diantara yang menunjukan akan palsunya hadits ini adalah hadits ini melazimkan bahwa diantara kewajiban haji adalah menziarahi kuburan Nabi shallallahu álaihi wasallam, karena sikap kasar kepada Nabi adalah dosa besar bahkan bisa jadi kekufuran. Dan tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa wajib bagi orang yang berhaji untuk menziarahi kuburan Nabi shallallahu álaihi wasallam.

([2]) Adapun mengucapkan salam kepada Nabi maka telah datang hadits khusus tentang hal ini, Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

“Tidak ada seorang pun yang membaca salam padaku kecuali Allah mengembalikan ruh kepadaku hingga aku menjawab salamnya” (HR Abu Dawud no 2041)

Akan tetapi hadits ini umum berlaku tatkala mengucapkan salam dimanapun baik di kuburan atau selain kuburan.

Demikian juga bershalawat kepada Nabi maka dimanapun juga disyariátkan. Nabi bersabda

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا، وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan, dan janganlah kalian menjadikan kuburanku íed (perayaan), serta sholawatlah kalian kepadaku, karena sholawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada” (HR 2042)

([3]) Ada doa-doa lain yang ditulis oleh para ulama. Namun ada beberapa perkara yang harus diperhatikan:

  • Bahwasanya doa-doa ini dan yang lainya tidak ada riwayat baik dari nash maupun dari atsar sahabat.
  • Bahwasanya doa-doa ini dipilih oleh sebagian ulama sebagai pengajaran untuk orang awam yang mungkin dia tidak bisa berkata sesuatu apa pun.
  • Maka boleh bagi mereka untuk berdoa dengan kemampuan mereka sesuai dengan petunjuk yang disebutkan oleh para ulama.
  • Hendaknya orang yang mengatakan doa ini tidak meyakini bahwa doa ini disunnahkan oleh nabi.

([4]) Hal ini karena jarak antara jasad Nabi dengan jasad Abu Bakar hanya sedikit sekitar setengah langkah. Nabi dikubur dengan posisi kepala ke barat (kanan kiblat) dan kaki beliau ke arah timur (kiri kiblat) dan tubuh dan wajah beliau ke arah kiblat (selatan). Sementara Abu Bakar juga dalam posisi yang sama hanya saja di belakang Nabi (sebelah utara jasad Nabi sehasta) dan posisi kepala beliau sejajar dengan pundak Nabi shallallahu álaihi wasallam. Demikian juga Umar posisinya di belakang Abu Bakar dan posisi kepala Umar sejajar dengan pundak Abu Bakar.

FIRANDA ANDIRJA

13 Rabiul Awwal 1440H/21 November 2018

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.