HUKUM SHOLAT TAHAJJUD BERJAMAAH YANG DIRENCANAKAN

Hukum sholat malam/tahajjud berjamaa’ah yang direncanakan di luar bulan Ramadhan

 

Tidak ada khilaf di kalangan para ulama tentang disyari’atkannya sholat malam berjama’ah di masjid pada bulan Ramadhan yang dikenal dengan sholat tarawih.

Akan tetapi bolehkan sholat malam berjama’ah di luar bulan Ramadhan?

Secara umum para ulama membolehkan jika dilakukan hanya sesekali dan tidak dijadikan suatu rutinitas. Akan tetapi mereka berselisih apakah boleh di-agendakan/direncanakan hal tersebut? Ataukah hanya boleh jika kebetulan dan tidak direncanakan?

Pendapat pertama :

Hanya boleh dilakukan jika tidak diagendakan, namun jika kebetulan lagi berkumpul maka boleh saja melakukan sholat malam berjamaah. Ini adalah pendapat Syaikh Al-Albani rahimahullah (https://www.youtube.com/watch?v=ATFViBpz6Hs) dan didukung oleh Syaikh Sholeh al-Fauzan (www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/11766) dan Syaikh Muhammad Mukhtaar Asy-Syinqithi hafizhohullah (https://www.youtube.com/watch?v=hBBUbKtppFA)

Pendapat kedua :

Boleh saja meskipun diagendakan, dengan syarat hanya sesekali dan tidak dijadikan sebagai suatu kebiasaan. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyyah dan Syaikh al-Útsaimin rahimahumullah.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah raberkata :

وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ فَقَدْ رُوِيَ فِي فَضْلِهَا أَحَادِيثُ وَآثَارٌ وَنُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ فِيهَا فَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِيهَا وَحْدَهُ قَدْ تَقَدَّمَهُ فِيهِ سَلَفٌ وَلَهُ فِيهِ حُجَّةٌ فَلَا يُنْكَرُ مِثْلُ هَذَا. وَأَمَّا الصَّلَاةُ فِيهَا جَمَاعَةً فَهَذَا مَبْنِيٌّ عَلَى قَاعِدَةٍ عَامَّةٍ فِي الِاجْتِمَاعِ عَلَى الطَّاعَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فَإِنَّهُ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا سُنَّةٌ رَاتِبَةٌ إمَّا وَاجِبٌ وَإِمَّا مُسْتَحَبٌّ كَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَالْجُمُعَةِ وَالْعِيدَيْنِ. وَصَلَاةِ الْكُسُوفِ وَالِاسْتِسْقَاءِ وَالتَّرَاوِيحِ فَهَذَا سُنَّةٌ رَاتِبَةٌ يَنْبَغِي الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالْمُدَاوَمَةُ. وَالثَّانِي مَا لَيْسَ بِسُنَّةِ رَاتِبَةٍ مِثْلَ الِاجْتِمَاعِ لِصَلَاةِ تَطَوُّعٍ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ أَوْ عَلَى قِرَاءَةِ قُرْآنٍ أَوْ ذِكْرِ اللَّهِ أَوْ دُعَاءٍ. فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ إذَا لَمْ يُتَّخَذْ عَادَةً رَاتِبَةً. فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى التَّطَوُّعَ فِي جَمَاعَةٍ أَحْيَانًا وَلَمْ يُدَاوِمْ عَلَيْهِ إلَّا مَا ذُكِرَ وَكَانَ أَصْحَابُهُ إذَا اجْتَمَعُوا أَمَرُوا وَاحِدًا مِنْهُمْ أَنْ يَقْرَأَ وَالْبَاقِي يَسْتَمِعُونَ. وَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَقُولُ لِأَبِي مُوسَى ذَكِّرْنَا رَبَّنَا فَيَقْرَأُ وَهُمْ يَسْتَمِعُونَ … فَلَوْ أَنَّ قُومَا اجْتَمَعُوا بَعْضَ اللَّيَالِي عَلَى صَلَاةِ تَطَوُّعٍ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَّخِذُوا ذَلِكَ عَادَةً رَاتِبَةً تُشْبِهُ السُّنَّةَ الرَّاتِبَةَ لَمْ يُكْرَهْ. لَكِنَّ اتِّخَاذَهُ عَادَةً دَائِرَةً بِدَوَرَانِ الْأَوْقَاتِ مَكْرُوهٌ لِمَا فِيهِ مِنْ تَغْيِيرِ الشَّرِيعَةِ وَتَشْبِيهِ غَيْرِ الْمَشْرُوعِ بِالْمَشْرُوعِ. وَلَوْ سَاغَ ذَلِكَ لَسَاغَ أَنْ يَعْمَلَ صَلَاةً أُخْرَى وَقْتَ الضُّحَى أَوْ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ أَوْ تَرَاوِيحَ فِي شَعْبَانَ أَوْ أَذَانًا فِي الْعِيدَيْنِ أَوْ حَجًّا إلَى الصَّخْرَةِ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَهَذَا تَغْيِيرٌ لِدِينِ اللَّهِ وَتَبْدِيلٌ لَهُ.

 

“Dan adapun malam nishfu Sya’ban maka sungguh telah diriwayatkan hadits-hadits dan atsar-atsar tentang keutamaannya, dan juga dinukilan dari sekelompok salaf bahwasanya mereka melakukan sholat di malam tersebut. Maka sholatnya seseorang sendirian di malam tersebut telah dilakukan oleh para salaf, dan hujjahnya ada maka tidak diingkari hal yang seperti ini.

Adapun sholat di malam nishfu Sya’ban dengan berjama’ah, maka hal ini dibangun di atas kaidah umum tentang perihal berkumpul dalam menjalankan ketaatan dan ibadah. Ada dua model :

Pertama :

Perkumpulan/berjamaah yang merupakan sunnah yang rutin, baik yang wajib maupun yang mustahab, seperti berjamaah dalam sholat lima waktu, sholat jum’at, sholat ‘ied, sholat gerhana, sholat istisqo’, dan berjama’ah sholat tarawih. Ini semua merupakan berjama’ah yang sunnah yang hendaknya dijaga dan dilestarikan.

Kedua :

Berjama’ah yang bukan merupakan sunnah yang rutin, seperti berjama’ah untuk sholat sunnah seperti sholat malam atau untuk membaca al-Qur’an atau untuk berdzikir atau untuk berdoa. Maka hal ini tidaklah mengapa selama tidak dijakan sebagai kebiasaan yang rutin. Karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang sholat sunnah berjama’ah namun beliau tidak continue (berkesinambungan) kecuali sekedar yang disebutkan (dalam hadits-hadits). Dan para sahabat beliau jika mereka berkumpul maka mereka meminta salah seorang dari mereka untuk membacakan al-Qur’an dan yang lainnya mendengarkan. Umar bin al-Khotthob berkata kepada Abu Musa, “Ingatkanlah kami dengan Robb kami”. Maka Abu Musa pun melantunkan al-Qurán dan yang lainnya mendengarkan…

 

Maka jika sekelompok orang berkumpul pada suatu malam untuk sholat sunnah -namun tanpa dijadikan sebagai kebiasaan rutin yang mirip denga sunnah yang rutin- maka tidaklah makruh. Akan tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan rutin yang berulang dengan berulang/berputarnya waktu maka merupakan perkara yang makruh karena adanya perubahan syariát dan penyamaan sesuatu yang tidak disyariátkan seperti perkara yang disyariátkan. Jika hal ini diperbolehkan maka akan bolehlah mengerjakan sholat yang lain di waktu dhuha atau antara dzuhur dan ashar atau mengerjakan sholat tarawih di bulan Sya’ban atau mengumandangkan adzan di sholat íedul fithri dan íedul adha, atau berhaji kepada batu yang ada di Baitul Maqdis. Dan ini merupakan bentuk merubah dan mengganti agama Allah.”(Majmuu’ Fataawa 23/132-133)

Syaikh al-Útsaimin rahimahullah ketika ditanya, “Aapakah hukum sholat malam berjamaáh di luar bulan Ramadhan?”, maka beliau berkata :

“Sholat genap, sholat witir, dan sholat tahajjud boleh dikerjakan berjamaáh terkadang namun tidak boleh dikerjakan selalu. Dalilnya bahwasanya Nabi shallallahu álaihi wasallam pernah sholat (malam) berjamaáh dengan sebagian sahabat beliau. Pernah beliau sholat bersama Abdullah bin Ábbas, pernah juga beliau sholat bersama Abdullah bin Masúd, dan pernah beliau juga pernah sholat malam berjamaáh bersama Hudzaifah bin al-Yaman.

 

الشفع والوتر والتهجد تجوز فيه الجماعة أحياناً لا دائماً، ودليل ذلك أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صلى جماعة ببعض أصحابه، فمرة صلى معه عبد الله بن عباس – رضي الله عنهما -، ومرة صلى معه عبد الله بن مسعود – رضي الله عنه -، ومرة صلى معه حذيفة بن اليمان – رضي الله عنه -.لكن هذا ليس راتباً أي لا يفعله كل ليلة، ولكن أحياناً: فإذا قام الإنسان بتهجد وقد نزل به ضيف وصلى معه هذا الضيف جاء في تهجده ووتره فلا بأس به، أما دائماً، فلا، وهذا في غير رمضان؛ أما في رمضان فإنه تسن فيه الجماعة من أوله إلى آخره من التراويح ومنها الوتر.

 

Akan tetapi ini bukanlah rutinitas, yaitu Nabi tidak mengerjakannya setiap malam akan tetapi hanya terkadang. Maka jika seseoirang bangun dan bertahajjud dan ada tamunya lalu ia sholat bersama tamunya, ia gabung bersamanya dalam tajahhudnya dan witrinya maka tidak mengapat. Adapun rutin selalu maka tidak boleh jika di luar bulan Ramadhan. Adapun di bulan Ramadhan maka disunnahkan untuk sholat malam berjamaáh dari awal bulan sampai akhir bulan, baik sholat tarawih maupun witir” (Majmuu’ Fataawa wa Rosaail al-Útsaimin 14/160-161)

Pendapat yang kuat :

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang kedua, karena :

Pertama :

Datangnya hadits-hadits yang menjelaskan sholat Nabi berjamaah dengan sebagian sahabat tanpa menyebutkan tentang diagendakan atau tidak, sehingga bersifat mutlak. Diantaranya hadits Ibnu Masúd radhiallahu ánhu. Beliau berkata :

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً، فَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ»…هَمَمْتُ أَنْ أَقْعُدَ وَأَذَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku sholat bersama Nabi shallallahu álaihi wasallam pada suatu malam, maka Nabi tetap berdiri hingga aku berniat buruk”… aku berniat untuk duduk dan meninggalkan Nabi shallallahu álaihi wasallam” (HR Al-Bukhori no 1135 dan Muslim no 773)

Demikian juga hadits Hudzaifah bin Al-Yaman, beliau berkata :

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ

Aku sholat bersama Nabi shallallahu álaihi wasallam pada suatu malam, maka beliau membaca surat al-Baqoroh…” (HR Muslim no 772)

Adapun riwayat-riwayat yang lain yang menunjukan bahwa tidak adanya agenda sebelumnya([1]) maka jika memang demikian tentu tidaklah mentaqyid riwayat yang mutlaq.

Kedua :

Lagi pula penulis belum menemukan ada suatu ibadah yang kalau digendakan maka tidak boleh, namun jika tidak diagendakan maka tidak mengapa.

Ketiga :

Semua sepakat jika misalnya tiba-tiba tatkala ada tamu yang menginap lalu sang tuan rumah berkata kepada tamunya, “Karena engkau malam ini tidur di rumahku maka mala mini kita sholat malam bersama”, maka ini dibolehkan. Apalagi jika rencana tersebut tercetus 5 menit sebelum pelaksanaan sholat malam. Namun terjadi khilaf jika pernecanaan tersebut tercetus 5 hari sebelumnya.

Maka apa bedanya antara “mengagendakan/merencanakan 5 hari sebelumnya” dengan “mengagendakan/merencanakan sholat malam 5 menit sebelumnya”? Toh keduanya sama-sama direncanakan?

Keempat :

Yang menjadi sebab pelarangan adalah bukan permasalahan diagendakan atau tidak diagendakan, akan tetapi sebagaimana penjelasan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yaitu jangan sampai menjadi kebiasaan rutinitas sehingga akhirnya seakan-akan seperti suatu sunnah atau yang menyerupai syiár suatu sunnah.

FIRANDA ANDIRJA

Jakarta, 25 Jumadal ‘Ula 1440H/31 Januari 2019

—————————————————————————————————————————————–

([1]) Seperti hadits Ibnu Ábbas radhiallahu ánhuma dimana beliau bermalam di rumah bibinya Maimunah (istri Nabi shallallahu álaihi wasallam) bersama Nabi shallallahu álaihi wasallam. Lalu di malam hari Nabi pun sholat malam lalu diikuti oleh Ibnu Ábbas. Beliau berkata :

ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى، فَقُمْتُ فَتَمَطَّيْتُ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَرَى أَنِّي كُنْتُ أَنْتَبِهُ لَهُ، فَتَوَضَّأْتُ، فَقَامَ فَصَلَّى، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ

“Lalu Nabi berdiri sholat (malam), maka aku lalu bangun dan akupun menggeliat aku tidak ingin beliau tahu bahwa aku tahu beliau bangun. Maka akupun berwudhu. Lalu beliau sholat malam, maka akupun sholat bermakmum kepada beliau dengan berdiri di sebelah kiri beliau….” (HR Al-Bukhari no 183 dan Muslim no 763, dan ini adalah lafal Muslim).

Maka jelas sekali bahwa sholat malamnya Ibnu Ábbas yang bermakmum kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam adalah tanpa direncanakan terlebih dahulu.

Demikian juga hadits Jabir bin Abdillah tatkala beliau bersafar bersama Nabi shallallahu álahi wasallam maka pada suatu malam beliau berkata,

ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، خَالَفَ بَيْنَ طَرَفَيْهِ، فَقُمْتُ خَلْفَهُ، فَأَخَذَ بِأُذُنِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ

“Lalu Nabi shallallahu álaihi wasallam sholat di satu lembar baju, beliau menyilangkan kedua ujung baju beliau, maka akupun bermakmum di belakangnya, maka beliau memegang telingaku dan beliau memindahkanku ke kanan beliau” (HR Muslim no 766)

 

About the author

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.
Ar- Rahmaan