Ini salah satu permasalahan yang sering ditanyakan, karena masalah ini masuk dalam kategori “ma ta’ummu bihil balwa”, yakni masalah yang seringkali terjadi dan dihadapi oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari. 

Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat, diantara pendapat yang ada dalam masalah ini: 

Pendapat Pertama: Makmum diam tanpa mengikuti qunutnya imam, tidak mengangkat tangannya, tidak juga mengaminkan doanya, dia menunggu sampai imamnya selesai qunut, lalu mengikuti gerakan imamnya lagi ketika dia sujud hingga akhir salam.  

Dalil pendapat ini sangat jelas, karena makmum memandang imam melakukan sesuatu yang menyelisihi tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam, sehingga seorang makmum tidak boleh mengikutinya.  

Hal ini seperti apabila orang shalat Maghrib tapi bermakmum kepada orang yang shalat isya’, maka ketika rekaat ketiga, seorang makmum menunggu imamnya dalam posisi duduk tahiyat, sehingga imamnya menyelesaikan rekaat keempatnya, lalu makmum mengikuti imamnya saat salam. 

Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Abu Yusuf [https://ajurry.com/vb/archive/index.php/t-450.html]. Pendapat ini juga dinukil dari Imam Ahmad dalam salah satu riwayat, dan dipilih oleh Syeikh Ali Farkus Al-Jazairy. [https://ferkous.com/home/?q=fatwa-501]. 

Pendapat kedua: Makmum disyariatkan untuk mengikuti imam, mengangkat tangannya, dan mengaminkan doanya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, Diantara mereka Imam Muhammad ibnul Hasan Al-Hanafi, Imam Ahmad dalam salah satu riwayat, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syeikh Binbaz, Syeikh Al-Utsaimin, Syeikh Shalih Al-Fauzan, dll. Dan dalil-dalilnya bisa kita ketahui dari beberapa urairan para ulama berikut ini: 

 

  1. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- mengatakan:

ولهذا ينبغي للمأموم أن يتبع إمامه فيما يسوغ فيه الاجتهاد، فإذا قنت قنت معه، وإن ترك القنوت لم يقنت، فإن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إنما جعل الإمام ليؤتم به. وقال: لا تختلفوا على أئمتكم. وثبت عنه في الصحيح أنه قال: يصلون لكم، فإن أصابوا فلكم ولهم، وإن أخطئوا فلكم وعليهم. ألا ترى أن الإمام لو قرأ في الأخيرتين بسورة من الفاتحة وطولهما على الأوليين: لوجبت متابعته في ذلك فأما مسابقة الإمام فإنها لا تجوز، فإذا قنت لم يكن للمأموم أن يسابقه، فلا بد من متابعته، ولهذا كان عبد الله بن مسعود قد أنكر على عثمان التربيع بمنى، ثم إنه صلى خلفه أربعاً، فقيل له: في ذلك؟ فقال: الخلاف شر. وكذلك أنس بن مالك لما سأله رجل عن وقت الرمي، فأخبره، ثم قال: افعل كما يفعل إمامك. 

“Oleh karena itu, sebaiknya seorang makmum tetap mengikuti imamnya dalam masalah ijtihadiyah. Sehingga apabila imam qunut, maka dia qunut bersamanya, apabila imamnya tidak qunut, maka dia juga tidak qunut.  

Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menyabdakan: “Seseorang itu dijadikan sebagai imam untuk diikuti”.  

Beliau juga telah bersabda: “Jangan kalian berselisih dengan imam kalian”.  

Dan telah valid dalam kitab shahih (al-Bukhari) bahwa beliau telah bersabda: “Para imam itu shalat untuk kalian, maka bila mereka benar, maka itu bermanfaat untuk kalian dan mereka, bila mereka salah, itu (tetap) bermanfaat bagi kalian, tapi membahayakan mereka. 

Bukankah bila imam membaca Surat setelah Alfatehah di dua rekaat terakhir (yakni rekaat ketiga dan keempat), dan imam lebih memanjangkan 2 rekaat terakhir itu melebihi panjangnya 2 rekaat awal, maka tetap wajib mengikutinya?! Adapun mendahuluinya, maka itu tidak boleh. Begitu pula ketika dia qunut, maka tidak boleh bagi makmum untuk mendahuluinya, tapi harus mengikutinya. 

Oleh karena itulah dahulu Sahabat Ibnu Mas’ud -radhiallahu anhu- mengingkari Sahabat Utsman karena melengkapkan rekaat shalatnya menjadi empat rekaat ketika di Mina, tapi setelah itu dia shalat di belakangnya empat rekaat. Lalu ditanyakan kepadanya tentang hal itu, maka dia mengatakan: “Perbedaan pendapat itu buruk”. [Al-Fatawa Al-Kubra 2/252]. 

 

  1. Syeikh Binbaz -rahimahullah- mengatakan:

لكن لو صليت مع إنسان يقنت فلا بأس؛ لأنه متأول وهو اتبع جماعة من الأئمة رأوا ذلك فإذا صليت معه فلا حرج في أن تقنت معه؛ لأن له شبهة ولأن له قولاً من أقوال العلماء قد اتبعه وأخذ به فله شبهة، فإذا قنت وصليت معه فلا حرج، ولكن ينصح هذا الإمام أنه لا يقنت إلا في النوازل.  

“Tapi bila engkau shalat bersama orang yang qunut, maka tidak mengapa (qunut bersamanya), karena dia ‘muta-awwil’ (melakukan sesuatu karena alasan yang menurutnya benar), dan dia mengikuti sekelompok imam yang berpendapat seperti itu. Oleh karena itu bila engkau shalat bersamanya, maka tidak masalah engkau qunut bersamanya, karena dia ada ‘syubhat’, dan karena dia punya pendapat yang dia ikuti .. maka bila dia qunut dan engkau shalat bersamanya, maka tidak mengapa (qunut bersamanya), tapi imam tersebut sebaiknya diberi nasehat agar tidak qunut, kecuali untuk qunut nazilah saja”. [Fatawa Nurun Alad Darb Libni Baz 10/218] 

 

  1. Syeikh Al-Utsaimin:

الذي نرى أن لا قنوت في الفرائض إلا في النوازل، لكن من صلى خلف إمام يقنت فليتابعه درءاً للفتنة، وتأليفاً للقلوب. 

“Yang kami lihat (sebagai pendapat yang kuat), bahwa tidak ada qunut dalam shalat-shalat fardhu, kecuali qunut nazilah. Akan tetapi orang yang shalat di belakang imam yang qunut (subuh), maka hendaklah dia mengikuti imam tersebut, untuk mencegah timbulnya kegaduhan, dan untuk menyatukan hati”. [Majmu’ Fatawa Al-Utsaimin 14/177-178]. 

Beliau juga mengatakan:

القول الراجح في هذه المسألة أنه لا قنوت في صلاة الفجر؛ لأن ذلك لم يثبت عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فإن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لم يقنت في الفرائض إلا بسبب نوازل نزلت بالأمة الإسلامية، ثم ترك القنوت عليه الصلاة والسلام فلم يقنت حتى توفاه الله عز وجل.

لكن من ائتم بإمام يقنت في صلاة الفجر فلا ينفرد عنه، بل يتابعه ويقف، ويؤمن على دعائه، هكذا نص عليه الإمام أحمد – رحمه الله – وإنما نص – رحمه الله – على هذا؛ لأن الخلاف شر، والخروج عن الجماعة شر.

وانظر إلى كلام ابن مسعود – رضي لله عنه – لما كره إتمام عثمان بمنى كان يصلي خلفه أربعاً، فقيل له: يا أبا عبد الرحمن ما هذا؟ يعني كيف يصلي أربعاً وأنت تنكر على عثمان؟ فقال – رضي الله عنه -: “الخلاف شر”. وهذه قاعدة مهمة، وهي أنه ينبغي للإنسان أن لا يخالف إخوانه ولا يشذ عنهم … لأن الخلاف لا شك أنه شر، وتفريق للأمة وتمزيق لشملها، وهذا الدين الإسلام له عناية كبيرة بالاجتماع وعدم التفرق وعدم التباغض.

“Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah bahwa tidak ada qunut dalam shalat fajar, karena hal itu tidak valid dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau tidaklah melakukan qunut di shalat-shalat fardhu, kecuali karena sebab terjadinya ‘nazilah’ (kejadian besar) yang menimpa kaum muslimin, kemudian beliau meninggalkan qunut itu, sehingga beliau tidak qunut sampai Allah mewafatkan beliau.

Akan tetapi, orang yang bermakmum kepada imam yang qunut di shalat fajar, maka janganlah dia menyendiri (tidak mengikuti) imamnya, tapi hendaknya dia mengikutinya, tetap berdiri, dan mengaminkan doanya. Seperti inilah yang ditegaskan oleh Imam Ahmad rahimahullah, dan beliau tidaklah menegaskan hal ini melainkan karena perbedaan itu buruk, dan keluar dari jamaah itu buruk.

Lihatlah perkataan Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu ketika beliau tidak suka dengan praktek Sahabat Utsman radhiallahu anhu yang tidak meng-qashar shalatnya saat di Mina, beliau tetap shalat di belakangnya 4 rekaat. Ketika beliau ditanya: ‘wahai abu abdirrahman (ibnu mas’ud), apa yang kau lakukan ini?!’ maksudnya: ‘Bagaimana engkau shalat 4 rekaat, padahal engkau telah mengingkari apa yang dilakukan Sahabat Utsman?!’. Maka beliau menjawab: ‘Perbedaan itu buruk’. 

Ini adalah kaidah yang penting, bahwa seseorang tidak seyogyanya menyelisihi saudara-saudaranya, tidak seyogyanya menyendiri dari mereka … karena tidak diragukan lagi perbedaan itu buruk dan memecah belah umat. Sedang Agama Islam ini memiliki perhatian besar terhadap persatuan, agar umat tidak berpecah belah, dan tidak saling membenci”. [Majmu’ fatawa Al-Utsaimin 14/178-179].

 

  1. Allajnah Adda-imah:

وبالجملة فتخصيص صلاة الصبح بالقنوت من المسائل الخلافية الاجتهادية، فمن صلى وراء إمام يقنت في الصبح خاصة قبل الركوع أو بعده فعليه أن يتابعه، وإن كان الراجح الاقتصار في القنوت بالفرائض على النوازل فقط 

“Intinya, mengkhususkan shalat subuh dengan qunut termasuk dalam masalah-masalah khilafiyah ijtihadiyah. Maka orang yang shalat di belakang imam yang selalu qunut di shalat subuh saja, maka dia harus mengikutinya, baik doanya sebelum ruku’ atau setelah ruku’. Meskipun pendapat yang kuat adalah mengkhususkan qunut di shalat-shalat fardhu saat ada kejadian besar saja”. [Fatawa Lajnah Da-imah 7/45]. 

Dari beberapa penjelasan di atas, penulis menguatkan pendapat yang kedua, karena tiga alasan kuat: 

  1. Bahwa pada asalnya makmum itu diperintahkan untuk mengikuti imam.
  2. Alasan tidak boleh mengikuti qunutnya imam ‘karena menurut makmum itu bid’ah atau kesalahan’, maka sudah terjawab dengan perkataan para ulama, bahwa itu adalah masalah ijtihadiyah dan menurut imam tersebut amalan itu adalah sunnah. Sebagaimana mengikuti imam yang melengkapkan rekaatnya ketika safar, atau mengikuti imam yang lebih memanjangkan rekaat ketiga dan keempatnya, padahal itu kesalahan.

 

  1. Dengan pendapat ini, persatuan kaum muslimin lebih terjaga, dan lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan ini sesuai dengan keadaan Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagaimana dikatakan oleh ibunda kita Aisyah -radhiallahu anha-:

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْه 

“Tidaklah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diberikan dua pilihan, kecuali beliau mengambil yang lebih mudah dari keduanya, selama itu bukan dosa. Tapi bila itu dosa, maka beliau orang yang paling jauh darinya”. [HR. Albukhari 3560, Muslim 2327]. 

Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat bagi penulis secara khusus, dan bagi kaum muslimin secara umum, Aamiin.  

والحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

MUSYAFFA AD DARINY

18 Rabiul Awwal 1440H / 26 November 2019

2 Responses
  1. Firza Gerivaldi

    Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Semoga Allah memberikan kesehatan, kemudahan urusan dan rezeki kepada ustadz.

    Jika saya memilih pendapat untuk tidak mengikuti imam dalam qunut subuh / tidak mengangkat tangan. Apakah saat posisi berdiri tersebut saya membaca dzikir-dzikir yang sudah diajarkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam saat posisi tsb, atau tetap diam menunggu. Syukron, baarakallaahu fiik..

    1. admin

      Waalaikumussalam, afwan untuk penjelasannya silahkan tanya langsung kepada ustadz yang bersangkutan dengan menggunakan aplikasi Halo Ustadz. Karena admin, tidak memiliki kapasitas untuk menjawab. baarakallah

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.