Penulis melihat sebagian besar makmum, tergesa-gesa dalam mengikuti gerakan imamnya. Mereka sudah bergerak mengikuti imam, padahal imam belum selesai melakukan gerakannya.

Seperti ini jelas kurang afdhal, dan akan menjerumuskan makmum ke dalam tindakan mendahului gerakan imam, karena bisa jadi dia bergerak setelah imam bergerak, tapi mendahului imam dalam menyelesaikan gerakannya.

Yang afdhal bagi seorang makmum adalah menunggu dahulu sampai imam menyelesaikan gerakannya, kemudian makmum baru memulai gerakannya untuk mengikuti imam. Hal ini ditunjukkan dalam banyak hadits, diantaranya sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam- berikut ini:

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا: رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا [خ 805، م 411]

“Sungguh tidaklah imam ditunjuk kecuali agar diikuti. Oleh karena itu, apabila dia telah bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Apabila dia telah ruku’, maka ruku’lah kalian. Apabila dia telah mengangkat kepalanya, maka angkatlah kepala kalian. Apabila dia telah membaca ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah ‘rabbana walakal hamd’. Apabila dia telah sujud, maka bersujudlah kalian”. [HR. Bukhari 805, dan Muslim 411].

Dalam riwayat lain yang shahih, redaksinya seperti berikut ini:

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ. فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَلَا تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ. وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا: اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ. وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَلَا تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ

“Sungguh tidaklah imam ditunjuk kecuali agar diikuti. Oleh karena itu, apabila dia telah bertakbir, maka bertakbirlah kalian! Jangan sampai kalian bertakbir, sampai dia bertakbir! Apabila dia telah ruku’, maka ruku’lah kalian! Jangan sampai kalian ruku’ sampai dia ruku’! Apabila dia telah membaca ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah ‘rabbana walakal hamd’. Apabila dia telah sujud, maka bersujudlah kalian! Jangan sampai kalian bersujud sampai dia bersujud”. [HR. Bukhari 805, dan Muslim 411].

Sisi pengambilan dalilnya: bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- memerintahkan untuk mengikuti gerakan setelah imam sudah sempurna dalam melakukan gerakannya, baru kita mengikutinya.

Imam Nawawi -rahimahullah- mengatakan ketika mensyarah hadits di atas:

فيه وجوب متابعة المأموم لإمامه في التكبير والقيام والقعود والركوع والسجود، وأنه يفعلها بعد الإمام. فيكبر تكبيرة الإحرام بعد فراغ الإمام منها، فإن شرع فيها قبل فراغ الإمام منها لم تنعقد صلاته. ويركع بعد شروع الإمام في الركوع وقبل رفعه منه، فإن قارنه أو سبقه فقد أساء … وكذا السجود. ويسلم بعد فراغ الإمام من السلام، فإن سلم قبله بطلت صلاتهوإن سلم معه لا قبله ولا بعده فقد أساء. [شرح النووي على صحيح مسلم 4/132]

“Dalam hadits ini ada (petunjuk) wajibnya makmum mengikuti imam dalam takbir, berdiri, duduk, ruku’, dan sujud. Dan makmum melakukan itu setelah imamnya. Maka makmum melakukan takbiratul ihram setelah selesainya imam dari takbiratul ihram. Jika makmum memulai takbiratul ihram sebelum imam selesai darinya; shalatnya tidak sah.

Makmum juga (hendaknya) ruku’ setelah imam melakukan ruku’ dan sebelum imam mengangkat kepalanya dari ruku’, apabila makmum berbarengan atau mendahului imamnya; maka dia telah berbuat buruk  … Begitu juga dalam sujud. Makmum juga (hendaknya) bersalam setelah selesainya imam dari salam. Jika dia salam sebelum salamnya imam; maka shalatnya batal … Bila dia salam bersama imamnya, tidak sebelum dan tidak setelahnya; maka dia telah berbuat buruk”. [Syarh Nawawi Ala Shahih Muslim 4/132].

Dan inilah yang sesuai dengan praktek para sahabat di zaman dulu, sebagaimana disampaikan oleh Sahabat Bara’ -radhiallahu anhu-:

أَنَّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا رَكَعَ رَكَعُوا، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فَقَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ؛ لَمْ نَزَلْ قِيَامًا، حَتَّى نَرَاهُ قَدْ وَضَعَ وَجْهَهُ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ نَتَّبِعُهُ [م 474]

“Sungguh para sahabat dahulu biasa shalat bersama Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-. Jika beliau ruku’, maka mereka pun ruku’. Jika beliau mengangkat kepala dari ruku’ dan beliau membaca ‘sami’allahu liman hamidah’, maka kami masih terus berdiri, hingga kami melihat beliau benar-benar telah meletakkan wajahnya di bumi, kemudian kami baru mengikuti beliau”. [HR. Muslim: 474].

Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa para sahabat dahulu -radhiallahu anhum- tidaklah bergerak untuk mengikuti gerakan Nabi -shallallahu alahi wasallam- dalam shalatnya, kecuali setelah beliau sempurna dalam melakukan gerakannya. Dan itulah yang sebaiknya kita lakukan, sebagaimana dilakukan oleh para sahabat.

Kesimpulannya: apabila kita melihat imam ruku’, maka afdhalnya kita tetap berdiri sampai imam ruku’ dalam keadaan sempurna, lalu kita segera ruku’ setelah itu. Begitu pula bila kita melihat imam sujud, maka afdhalnya kita tetap berdiri sampai imam sujud dalam keadaan sempurna, lalu segera sujud setelah itu. Begitu pula dalam gerakan-gerakan shalat lainnya. Wallahu a’lam.

Demikian artikel ini ditulis, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

MUSYAFFA AD DARINY

10 Rabiul Akhir 1440H / 17 Desember 2018

 

2 Responses
  1. Pungki

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Terkait gerakan Imam, mohon penjelasannya mengenai:

    1. Jika makmum masbuq di raka’at ke 3, kemudian saat Imam duduk tahiyatul akhir di raka’at ke 4, apakah Makmum duduk tahiyatul akhir atau tahiyatul awal (yang di raka’at ke2)

    2. Jika Imam mengangkat tangan saat Qunut, apakah Makmum ikut angkat tangan Qunut, padahal mungkin Makmum tidak ikut Qunut.

    Jazakallahu khairan katsiran

    1. admin

      Waalaikumussalam, afwan untuk penjelasannya silahkan tanya langsung kepada ustadz yang bersangkutan dengan menggunakan aplikasi Halo Ustadz. Karena admin, tidak memiliki kapasitas untuk menjawab. baarakallah

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.