KEDUDUKAN HADIST LARANGAN BERPUASA SETELAH PERTENGAHAN SYABAN.

KEDUDUKAN HADIST LARANGAN BERPUASA SETELAH PERTENGAHAN SYABAN.

 

  Artikel kali ini kita akan membahas darajat hadist larangan berpuasa setelah pertengahan syaban,  adapun hadist yang melarang hal ini adalah hadist yang diriwiyatkan oleh Abu Hurairah, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ، فَلَا تَصُومُوا»

  Artinya: “jika tersisa separuh bulan syaban maka janganlah kalian berpuasa”.

 

  1. Takhriz Hadist:

  Hadist ini dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam sunannya (no 2337), Tirmidzi dalam jami’nya (no 738), ibnu majah dalam sunannya  (no 1651) dan yang lainya dari jalur ‘ALA BIN ABDURRAHMAN, dari bapaknya (abdurrahman), dari abu Hurairoh, dari Nabi  shalallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Analisis Sanad Hadist:

  Madar atau poros sanad hadist ini adalah ‘Ala bin Abdurrahman Al-Haraqi, kerena semua jalur riwayat hadist abu hurairoh tentang larangan puasa setelah pertengahan syaban  melewati jalurnya, ulama Al- Jarh wa Ta’dil  beselisih tentang kedudukan ‘ALA BIN ABDURRAHMAN Al-Haraqi dalam periwayatan hadist, berikut ini beberapa perkataan mereka tentang rawi hadist ini:

قال ابن سعد: «كان ثقة».

Berkata ibnu sa’ad: dia adalah orang yang  tsiqoh-terpercaya-. Ini adalah istilah pujian bagi seorang rawi. (lihat Thobaqot Kubro 5/420).

وقال ابن معين: «ليس حديثه بحجة«.

Berkata ibnu ma’in: hadistnya  tidak bisa dijadikan hujjah. Ini adalah istilah celaan bagi seorang rawi. (lihat Al- jarh wa Ta’dil karya ibnu abi hatim 6/357).

وقال الإمام أحمد: «ثقة لم أسمع أحدا ذكره بسوء».

Berkata imam ahmad: dia adalah orang yang tsiqoh (terpercaya) dan saya tidak pernah mendengar seorangpun mencelanya. (lihat Al- jarh wa Ta’dil karya ibnu abi hatim 6/357).

وقال أبو زرعة الرازي: «ليس هو بأقوى ما يكون».  

Berkata Abu zura’h Ar- Rozi: dia bukanlah orang yang kuat (dalam periwayatan hadist) sebagaimana mestinya. Ini adalah istilah celaan bagi seorang rawi. (lihat Al- jarh wa Ta’dil karya ibnu abi hatim 6/358).

وقال أبو حاتم : «صالح، روى عنه الثقات، و لكنه أنكر من حديثه أشياء».

Berkata Abu hatim: dia adalah orang yang sholeh (maksudnya bisa dipercayai dalam periwayatan hadist) telah meriyatkan dari ‘ALA BIN ABDURARAHMAN orang- orang yang tsiqoh( terpercaya), tetapi sebahagian hadistnya di inkari -oleh para ulama-. (lihat Al- jarh wa Ta’dil karya ibnu abi hatim 6/358).

وقال النسائي: «ليس به بأس».

Berkata An-Nasai:  Tidak mengapa dengan periwayatan hadistnya. Ini adalah stilah pujian bagi perawi hadist. (lihat tahdzibul kamal 22/523).

وقال ابن عدي: «ما أرى به بأسا».

Berkata ibnu ‘Adi: aku memandang tidak mengapa dengan periwayatan hadistnya. (lihat Al-kamil 6/374).

قال الحافظ  ابن حجر: «صدوق ربما وهم».

Berkata Al-Hafidz ibnu hajar: dia adalah yang shoduq, tapi kadang- kadang keliru dalam periwayatan hadist. (lihat At-Taqrib no 5247).

 

  Berdasarkan dari keterangan para imam AL- Jarh wa ta’dil diatas bahwasanya  rawi hadist ini adalah rawi yang diperselisihkan oleh para ulama, dan yang rojih tentang keaadaan rawi ini adalah dia  seorang rawi  yang hasanul hadist artinya dia adalah seorang rawi kalau meriwayatkan hadist, hadistnya menjadi hasan, bisa dijadikan hujjah periwayatannya kecuali hadist-hadist yang diingkari oleh para ulama, dan diantara hadist-hadist  yang diingkari oleh ulama terhadap rawi ini adalah hadist diatas yaitu  larangan puasa setelah pertengahan syaban:

قال أحمد: كان عبد الرحمن بن مهدي لم يحدثنا به. قلت لأحمد: لم؟ قال: لأنّه كان عنده أنّ النبي – صلى الله عليه وسلم – كان يصل شعبان برمضان وقال: عن النبي -صلى الله عليه وسلم- خلافه… قال أحمد: هذا حديث منكر، يعني حديث العلاء هذا.

Berkata imam Ahmad:  sesungguhnya Abdurrahman ibnu mahdi tidak meriwayatkan hadist  dari –’Ala bin Abdurrahman-, aku (abu dawud) berkata kepada imam ahmad kenapa –abdurrahman bin mahdi tidak meriwayatkan darinya- berkata imam Ahmad: sesungguhnya nabi shalallahu alaihi wasallam beliau menyambung puasa syaban dengan ramadhan, sedangakan dia –’ala bin Abdurrahman- meriwayatkan dari nabi sesuatu yang bertentangan….  dan hadist yang diriwayatkan oleh ‘Ala bin Adurrahman ini adalah hadist yang mungkar. (lihat masail ahmad li abi dawud hal 315).

وقال البرذعي: شهدت أبا زرعة ينكر حديث العلاء بن عبد الرحمن “إذا انتصف شعبان” وزعم أنه منكر”.

Berkata Al- Barzaiy : saya melihat Abu zurah mengingkari hadsit ‘Ala bin Abdurrahman  yaitu hadist: “jika tersisa separuh bulan maka janganlah kalian berpuasa”. (lihat sualat Abu zuraah 2/388).

وقال الخليلي: العلاء بن عبد الرحمن مختلف فيه، لأنه يتفرد بأحاديث لا يتابع عليها كحديث “إذا كان النصف من شعبان”.

Berkata Al- kholili: ‘ala bin Abdurrahman adalah seorang rawi yang diperselisihkan dan dia tafarrud dalam beberapa hadist yang tidak diriwiyatkan oleh  rawi lainya. (lihat Al-irsyad 1/218-219).

 وقال الذهبي: العلاء لا ينزل حديثه عن درجة الحسن، لكن يتجنب ما أنكر عليه. ومن أغرب ما أتى به عن أبيه عن أبي هريرة مرفوعا “إذا انتصف شعبان فلا تصوموا”.

Berkata Az-Zahabi: ‘Ala bin Abdurrahman hadistya tidak keluar dari derajat hasan, kecuali hadist-hadist yang dingkari  ulama terhadapnya, dan diantaranya adalah hadist yang dia riwayatkan dari bapaknya, dari Abu Hurairoh secara marfu: “jika tersisa separuh bulan syaban maka janganlah kalian berpuasa”. (Lihat siyar a’lamu nubala 6/186-187).

   Dari keterangan ulama diatas dapat kita simpulkan bahwasanya hadist larangan puasa setelah pertengahan syaban adalah hadist yang sangat lemah atau hadist yang mungkar, disebabkan tafarrud ‘Ala bin Abdurrahman. Tafarrud adalah hadist yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang mana rawi-rawi lainya tidak meriwayatkanya. Dan tafarrud salah satu sebab bisa dilemahkannya  sebuah hadist jika diriwayatkan oleh seorang rawi yang kurang bagus hafalanya.

  Dan sesungguhnya puasa setelah pertengahn syaban di perbolehkan berdasarkan beberapa dalil diantaranya adalah hadist Aisyah radiyallahu ‘anha:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: «لم أره صائما من شهر قط، أكثر من صيامه من شعبان كان يصوم شعبان كله، كان يصوم شعبان إلا قليلا».

 

  Dari Aisyah radiyallahu ‘anha, beliau mengatakan: “saya tidak pernah melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa lebih banyak daripada bulan syaban, dan terkadang beliau berpuasa hampir satu bulan  penuh. (lihat shohih Bukhari, no 1969 dan Muslim, no 1156).

 

   Hadist ini menunjukkan bahwasanya nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau berpuasa setelah pertengahan syabaan, dan perbuatan beliau menunjukkan bolehnya berpuasa setelah pertengahan syaban. Wallahu ‘alam

About the author

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.