KESALAHAN-KESALAHAN DALAM ZIARAH KUBUR RASULULLAH ﷺ

Ziarah kubur secara umum adalah sunah (dianjurkan) dengan tujuan untuk mengingat akhirat dan kematian, serta untuk mendoakan penghuni kubur. Keumuman hukum ziarah kubur ini juga berlaku untuk ziarah kubur Nabi.

Akan tetapi ziarah kubur nabi akan menjadi cacat tatkala orang yang berziarah kubur Nabi shallallahu álaihi wasallam melakukan kesalahan-kesalahan dalam ziarah kubur Nabi.

Diantara kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah :

Pertama : Bertabarruk (ngalap barokah) dengan mengusap-ngusap dinding kuburan nabi dan menciumnya.

Bertabarruk atau mencari berkah dengan Nabi benar adanya ketika Nabi ﷺ masih hidup([1])

Adapun bertabaruk dengan Nabi melalui dinding-dinding kuburan nabi adalah perbuatan yang tidak ada contohnya dan itu bidah.

Imam An-Nawawi berkata, “Tidak boleh thowaf di kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dibenci menempelkan perut dan punggung di dinding kuburan, hal ini telah dikatakan oleh al-Halimy dan yang selainnya. Dan dibenci mengusap kuburan dengan tangan dan dibenci mencium kuburan. Bahkan adab (*ziarah kuburan Nabi) adalah ia menjauh dari Nabi sebagaimana ia menjauh dari Nabi kalau dia bertemu dengan Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam tatkala masih hidup. Dan inilah yang benar, dan inilah perkataan para ulama, dan mereka telah sepakat akan hal ini.

Dan hendaknya jangan terpedaya oleh  banyaknya orang awam yang menyelisihi hal ini, karena teladan dan amalan itu dengan perkataan para ulama. Jangan berpaling pada perbuatan-perbuatan baru yang dilakukan oleh orang-orang awam dan kebodohan-kebodohan mereka. Sungguh yang mulia Abu Ali  al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah telah berbuat baik dalam perkataannya :

“Ikutilah jalan petunjuk dan tidak masalah jika jumlah pengikutnya yang sedikit. Berhati-hatilah akan jalan kesesatan dan jangan terpedaya oleh banyaknya orang yang binasa (*karena mengikut jalan kesesatan tersebut).” Barangsiapa yang terbetik di benaknya bahwasanya mengusap kuburan dengan tangan dan perbuatan yang semisalnya lebih berkah,  maka ini karena kebodohan dan kelalaiannya, karena keberkahan itu pada sikap mengikuti syari’at dan perkataan para ulama. Bagaimana mungkin keutamaan bisa diraih dengan menyelisihi kebenaran??” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab 8/257, perkataan An-Nawawi ini juga terdapat dalam Hasyiah Al-‘Allamah Ibni Hajr al-Haitami ‘ala Syarh Al-Idhoh fi Manasik Al-Haj, cetakan Dar Al-Hadits, Beirut, Libanon hal. 501)

Kedua : Thowaf di kuburan nabi

Thowaf adalah ibadah yang dilakukan di masjidil haram dengan mengelilingi kabah, dan satu-satunya tempat thowaf yang disyariatkan adalah di baitulloh (kabah). Alloh ﷻ berfirman:

 ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan melakukan thawaf sekeliling rumah tua (baitullah) (Q.S Al-Hajj : 29)

Dalam ayat ini menunjukan bahwa thowaf hanya ada di baitulloh adapun thowaf di kuburan nabi maka ini perbuatan bidah. Jika karena menyembah Nabi maka itu adalah perbuatan syirik.

Ketiga : Menghususkan ibadah di samping kuburan Nabi shallallahu álaihi wasallam seperti membaca al-quran berdzikir dan lain sebagainya. Karena amalan yang secara umum maka tidak boleh dilakukan secara khusus tanpa ada dalil.

Keempat : Memanggil nama Nabi dengan suara tinggi

Allah ﷻ berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْواتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُون

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari (Q.S al-Hujurat : 2)

Dan kehormatan Nabi ketika masih hidup dan setelah meninggal tetap terjaga. Sebagaimana tatkala Nabi masih hidup seseorang dilarang mengangkat suaranya di hadapan Nabi maka demikian juga setelah beliau meninggal tidak boleh mengangkat suara di hadapan jasad beliau. Sebagian jamaáh karena begitu histeris ketika di hadapan kuburan Nabi lalu berteriak-teriak “Ya Rasulullah…”, tentu ini menyelisihi adab.([2])

Kelima : Menghadap ke kubur Nabi ketika berdoa karena menyangka itu adalah sebab dikabulkanya doa, padahal ini adalah perbuatan yang salah karena seharusnya ketika berdoa adalah menghadap kiblat.

Keenam : Tidak boleh meminta-minta kepada Nabi shallallahu álaihi wasallam, baik meminta kesembuhan dari penyakit, meminta dihilangkannya kesulitan, meminta dimudahkan dapat keturunan, dan yang lainnya. Hal ini merupakan kesyirikian yang bisa membatalkan Islam seseorang. Karena Nabi shallallahu álaihi wasallam adalah seorang hamba dan bukan Tuhan tempat meminta. Para sahabat yang begitu cinta kepada Nabi dan yang lebih mengetahui keagungan Nabi, tidak seorangpun dari mereka pergi ke kuburan Nabi untuk minta-minta apapun, apalagi untuk diskusi dengan Nabi shallallahu álaihi wasallam. Hal ini karena mereka mengetahui bahwa Nabi shallallahu álaihi wasallam telah wafat, dan kehidupan Nabi di alam barzakh adalah kehidupan yang berbeda dengan alam dunia.

Itulah beberapa kesalahan dalam ziarah kubur nabi, semoga bisa bermanfaat bagi bagi kita semua dan semoga kita bisa bersikap lebih baik lagi tatkala melakukan ziarah kubur Nabi.

———————————————————————————————————————————-

([1]) Misalnya sebagaimana dalam sebuah hadits.

أنّ أَبَا جُحَيْفَةَ يَقُولُ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ فَأُتِيَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ وَقَالَ أَبُو مُوسَى دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ فِيهِ مَاءٌ فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ فِيهِ وَمَجَّ فِيهِ ثُمَّ قَالَ لَهُمَا اشْرَبَا مِنْهُ وَأَفْرِغَا عَلَى وُجُوهِكُمَا وَنُحُورِكُمَا

Abu Juhaifah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar mendatangi kami di waktu tengah hari yang panas. Beliau lalu diberi air wudlu hingga beliau pun berwudlu, orang-orang lalu mengambil sisa air wudlu beliau seraya mengusap-ngusapkannya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat zhuhur dua rakaat dan ‘ashar dua rakaat sedang di depannya diletakkan tombak kecil.” Abu Musa berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta bejana berisi air, beliau lalu membasuh kedua tangan dan mukanya di dalamnya, lalu beliau memasukkan air ke mulutnya kemudian membuangnya ke bejana seraya berkata kepada keduanya (Abu Musa dan Bilal): “Minumlah darinya dan usapkanlah pada wajah dan leher kalian berdua (HR Bukhari no 181)

([2]) As-Saaib bin Yaziid berkata :

كُنْتُ قَائِمًا فِي المَسْجِدِ فَحَصَبَنِي رَجُلٌ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ، فَقَالَ: اذْهَبْ فَأْتِنِي بِهَذَيْنِ، فَجِئْتُهُ بِهِمَا، قَالَ: مَنْ أَنْتُمَا – أَوْ مِنْ أَيْنَ أَنْتُمَا؟ – قَالاَ: مِنْ أَهْلِ الطَّائِفِ، قَالَ: «لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ البَلَدِ لَأَوْجَعْتُكُمَا، تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

“Aku berdiri di masjid nabawi maka tiba-tiba ada seseorang melemparku denga kerikil kecil, akupun melihat kepada orang tersebut, ternyata orang yang melemparku itu adalah Umar bin al-Khottob. Lalu Umar berkata, “Pergilah dan datangkanlah kepadaku kedua orang itu”. Lalu aku mendatangkan kedua orang tersebut, maka Umar bertanya, “Siapakah kalian berdua?”, atau ia bertanya, “Dari manakah kalian berdua?”. Mereka berdua menjawab, “Kami dari penduduk kota Thoif”. Umar berkata, “Kalau seandainya kalian berdua dari kota Madinah tentu aku akan memukul kalian berdua, kalian telah mengangkat suara kalian di masjid Rasulullah shallallahu álaihi wasallam” (HR Al-Bukhari no 470)

Ini menunjukan bahwa berteriak-teriak dan mengangkat suara di masjid secara umum adalah perkara yang tidak beradab, terlebih lagi masjid Nabawi, terlebih lagi di hadapan kuburan Nabi shallallahu álaihi wasallam (lihat Mirqootul Mafaatiih 2/623 dan Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail al-Útsaimin 17/297)

FIRANDA ANDIRJA

19 Rabiul Awwal 1440H / 27 November 2018

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.
Ar- Rahmaan