Sudah lumrah seorang menginginkan sesuatu yang dia cintai dan menghindar dari perkara yang dia benci.

Sehingga apabila yang kita inginkan tidak kita dapatkan tentunya akan bersedih gundah dan galau. Dan begitu pula ketika perkara yang dibenci menimpa, kita pun akan larut dalam kesedihan.

Kalau Bicara suka dan tidak suka, maka biasanya hal ini bersandar pada nafsu, dan yang namanya nafsu maka standarnya adalah kepuasan sementara yang didapatkannya tanpa berfikir dampak yang akan terjadi sesudahnya (yang penting enak), seperti seorang yang mengkonsumsi rokok, bertahun-tahun dia merokok karena dia suka, padahal dampak buruk darinya sudah nyata.

Dalam dunia kerja, terkadang kita sudah cinta dengan pekerjaan kita, bahkan sudah menyatu dengan darah kita, dan menjadi kebutuhan, kemudian kita di-PHK, tentunya kita bingung menghadapinya dan tidak sedikit yang stres, lalu apa yang harus dilakukan ?…

Siapa yang suka penyakit ? semuanya tentu tidak, namun terkadang dia datang tanpa diundang, apa sikap kita ?…          

Untuk semua itu, Renungkanlah firman Allah yang mengajarkan kepada kita prinsip yang benar dalam menghadapi kehidupan ini, obat segala kegalauan, pelipur semua lara.

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)     

Sikap kita adalah menerima kondisi yang ada, suka tidak suka, karena kita tidak tahu apakah yang kita sukai baik untuk kita atau buruk, hanya Allah yang tahu.

Laksanakan perintah Allah walaupun berat untuk jiwa, tinggalkan larangan-Nya walaupun nafsu ingin melakukannya, karena kita yakin Allah Maha Tahu dengan yang kita butuhkan.

lihatlah umar bin Khatthab Radhiyallahu Anhu berkata:

«مَا أُبَالِي عَلَى أَيِّ حَالٍ أَصْبَحْتُ، عَلَى مَا أُحِبُّ أَوْ عَلَى مَا أَكْرَهُ، وَذَلِكَ لِأَنِّي لَا أَدْرِي الْخَيْرَ فِيمَا أُحِبُّ أَوْ فِيمَا أَكْرَهُ»     

“Aku tidak peduli di atas kondisi apa keadaanku, dia atas hal yang aku cintai atau yang aku benci, di karenakan aku tidak tahu kebaikan itu ada pada yang aku cintai atau pada yang aku benci”(HR Ibnu Abi Dunia, al-Faraj bakda asysyiddah No 13)

Berbaik sangkalah pada Sang Pencipat, Dialah Allah yang mengetahui akhir sesuatu dari perkara kita.

Jember, 23 Jumadal ‘Ula / 29 Januari 2019

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.