Mutiara Shahih Al-Bukhari

Hadits 3
Bagaimana Seharusnya Mencintai Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-?

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa beliau berkata, “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna iman seorang di antara kalian sampai aku lebih dicintainya daripada kedua orangtuanya, anaknya dan manusia semuanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dan dalam hadits riwayat al-Bukhari yang lain, Abdullah bin Hisyam –radhiyallahu ‘anhu- bercerita,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلا مِنْ نَفْسِي-وما كانوا يكذبون رضي الله عنهم-. فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: «لا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ». فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: «الآنَ يَا عُمَر».

“Dahulu kami bersama Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan beliau memegang tangan Umar bin al-Khaththab. Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah, sengguh engkau lebih saya cintai dari segala sesuatu, kecuali diri saya sendiri.’ Dan demikianlah, para sahabat tidak berbohong. Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, ‘Tidak, demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.’ Maka Umarpun mengatakan, ‘Maka sekarang, demi Allah engkau lebih saya cintai daripada diri saya sendiri.’ Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjawab, ‘Sekarang (baru benar), wahai Umar.”

 Beberapa faedah ilmiah seputar hadits ini:

  1. Iman yang dinafikan dalam haditsini adalah kesempurnaan iman, bukan pokok iman. Artinya jika seorang muslim masih mencintai dirinya lebih dari kecintaannya kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, ia tidak lantas dikeluarkan dari Islam. tapi dia berdosa; karena kesempurnaan iman yang dimaksud adalah kesempurnaan yang wajib, bukan kesempurnaan yang mustahabb (sunnah).
  2. Yang dimaksud dengan cinta di sini adalah rasa cinta yang sesungguhnya, bukan sekedar pengagungan. Umar sama sekali tidak pernah mengagungkan diri beliau lebih dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, namun beliau sempat mencintai diri beliau lebih dari cinta beliau kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- . Dan itu tidak boleh. Kita harus mencintai Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- lebih dari diri kita sendiri!
  3. Menurut Ibnu Hajar, kecintaan ini bisa diuji. Jika kita dihadapkan pada dua pilihan: (1) kehilangan orang yang kita cintai atau (2) tidak bisa melihat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- padahal kita bisa melihat beliau, kemudian kita memilih yang pertama, berarti sifat lebih cinta kepada Nabi -shallallah ‘alaihi wasallam- telah terwujud dalam hati kita. Demikian pula sebaliknya.
  4. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berhak untuk dicintai sedemikian rupa, karena beliau adalah sebab kita merengkuh hidayah dan meraih kebahagiaan di akhirat, alam keabadian. Jasa ini lebih besar jika dibandingkan dengan jasa dan kebaikan apapun di dunia. Namun kita sering lalai akan hakekat ini, sehingga rasa cinta kita berkurang. Bukankah saat kita ingat jasa seseorang, cinta kita kepadanya bertambah?
  5. Konsekuensi cinta kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah mematuhi ajaran beliau, mencintai apa yang beliau cinta, dan membenci apa yang beliau benci. Hal ini yang membedakan antara cinta yang hakiki dengan cinta yang sekedar pengakuan. Cinta perlu bukti.

Ustadz Anas Burhanuddin

 

 

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.