Mutiara Shahih Al-Bukhari : Ikhlas Dalam Beramal

Mutiara Shahih Al-Bukhari

Hadits 1

Ikhlas Dalam Amal

Dalam hadits Umar bin al-Khaththab yang merupakan hadits pertama dalam Shahih al-Bukhari, Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ. وَمَنْ هَاجَرَ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

“Sesungguhnya amalan-amalan itu sah dengan niat, dan setiap orang hanya mendapat apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa hijrah karena Allah dan RasulNya, ia mendapat pahala hijrah karena Allah dan RasulNya. Dan barang siapa hijrah karena dunia yang ingin dia raih atau wanita yang ingin dia nikahi, maka itulah yang ia dapat dari hijrahnya.”

 

Beberapa faedah ilmiah seputar hadits ini:

  1. Amalan-amalan syar’i yang membutuhkan niat seperti shalat dan puasa tidak sah kecuali jika disertai niat yang ikhlas, yaitu tidak mengharap dari amalan kita kecuali hanya pahala dan pujian Allah. Mengosongkan amalan kita dari niat atau mencampuri keikhlasan dengan mengharapkan pujian dari manusia akan membuat amalan kita sia-sia.
  2. Adapun amalan-amalan yang tidak membutuhkan niat, seperti tidur, makan dan berpakaian, ia akan memiliki nilai ibadah jika diiringi niat karena Allah. Amalan-amalan jenis kedua ini juga tidak dilewatkan oleh orang-orang saleh. Kebiasaan-kebiasaan yang merupakan kebutuhan biologispun mereka jadikan bernilai plus, dengan menjadikannya sarana menambah pahala. Misalnya tidur dengan diiringi niat agar kuat bangun malam, atau sarapan pagi dengan niat bisa menjalankan tugas kantor dengan baik. Sebagian dari mereka mengatakan, “Barangsiapa yang ingin sempurna amalannya, hendaknya ia memperbaiki niatnya, karena Allah memberikan pahala kepada hamba –jika baik niatnya- sampai pada sesuap nasi yang ia makan.”
  3. Seseorang hanya mendapatkan apa yang dia niatkan. Saat seseorang yang junub menyebur ke kolam renang, jika niatnya sekedar berenang atau membersihkan badan, hadatsnya tidak hilang. Tapi jika diniatkan sebagai mandi wajib, hadatsnya terangkat. Orang yang saat shalat dua rekaat di pagi hari meniatkannya sebagai shalat Subuh, maka dia telah menggugurkan kewajiban shalat Subuh. Dan jika niatnya adalah shalat sunnah qabliyyah, dia masih harus shalat dua rekaat lagi dengan niat shalat Subuh. Begitu juga jika dia berhaji untuk mencari pahala dari Allah, dia akan mendapatkan pahalanya. Sebaliknya jika dia berangkat haji karena mencari pujian manusia, hajinya tidak sah dan tertolak, bahkan malah akan membuatnya celaka di akhirat.
  4. Kadang ada dua orang yang secara lahir melakukan amalan yang sama, namun bisa jadi yang satu mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, sementara yang lain hanya biasa-biasa saja, atau malah mendapat murka. Kuncinya pada niat yang dipasang oleh masing-masing orang.

 

Jember, 23 Mei 2019

Ustadz Anas Burhanuddin, Lc, MA

 

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.