Tadabbur hari ini :

 “Siapa yang pelit hanyalah pelit terhadap diri sendiri”

Allah berfirman :

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّما يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ

“Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kalianlah orang-orang yang faqir” (QS Muhammad : 38)

Secara umum ayat ini ditafsirkan oleh para ahli tafsir dengan dua kemungkinan tafsir :

Pertama : Tafsir yang menjelaskan sebab timbulnya sikap pelit dan kikir adalah karena buruknya jiwa. Sehingga makna ayat adalah “Siapa yang kikir maka itu karena bakhilnya (pelitnya) jiwanya”.([1])

Hal ini menunjukan bahwa orang yang pelit itu hatinya kotor dan berpenyakit. Karenanya Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :

وَلَا يَجْمَعُ اللَّهُ فِي قَلْبِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ الْإِيمَانَ بِاللَّهِ وَالشُّحَّ جَمِيعًا

“Dan Allah tidak mengumpulkan bersama dalam hati seorang muslim antara iman kepada Allah dengan pelit” (HR An-Nasaai no 3115 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Karenanya ketika Nabi shallallahu álaihi wasallam hendak menyeru kepada seseorang agar tidak pelit dan mau mengorbankan hartanya untuk menjamu tamu dan memuliakan tetangga maka beliau shallallahu álaihi wasallam bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaknya ia muliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaknya ia memuliakan tamunya” (HR Al-Bukhari no 6019 dan Muslim no 47).

Kedua : Tafsir yang menjelaskan bahwa jika seseorang pelit maka pelitnya itu pada hakikatnya hanya pelit terhadap dirinya sendiri([2]).

Tatkala menafsirkan ayat ini Al-Baidhowi rahimahullah berkata :

فَإِنَّ نَفْعَ الإِنْفَاقِ وَضَرَّ الْبُخْلِ عَائِدَانِ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya manfaat ia berinfak dan mudhorotnya ia pelit kembali kepada dirinya sendiri” (Anwaar at-Tanziil wa Asroor at-Ta’wiil 5/125)

Demikian juga Az-Zamakhsyari berkata :

وَمَنْ يَبْخَلْ بِالصَّدَقَةِ وَأَدَاءِ الْفَرِيْضَةِ، فَلاَ يَتَعَدَّاهُ ضَرَرُ بُخْلِهِ، وَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ

“Barang siapa yang pelit untuk bersedekah dan untuk menunaikan kewajiban, maka kemudorotan akibat pelitnya tersebut tidak melampaui dirinya kepada orang lain (yaitu pada hakikatnya hanya menimpa dirinya sendiri). Dan sesungguhnya ia hanya pelit terhadap dirinya sendiri” (Al-Kasyyaaf 4/330, tafsir ini juga yang dipilih oleh Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir 4/123, Al-Qurthubi dalam tafsirnya 16/258)

Bukti bahwa seseungguhnya orang yang pelit hanyalah pelit kepada dirinya sendiri diantaranya :

Pertama : Allah menjanjikan bahwa orang yang bersedekah maka Allah akan memberikan ganti kepadanya bahkan menambah hartanya. Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabada :

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Tidakah sedekah mengurangi harta, dan tidaklah seorang hamba memaafkan kecuali Allah semakin menambah kemuliaannya, dan tidak seseorang merendah karena Allah kecuali Allah akan mengangkatnya” (HR Muslim no 2588)

Al-Baaji berkata :

وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ سَبَبٌ لِتَنْمِيَةِ الْمَالِ وَحِفْظِهِ

“Dan sedekah selain mendatangkan pahala, ia merupakan sebab untuk bertambahnya harta dan menjaga harta” (al-Muntaqho Syarh al-Muwattho’ 7/324, dan pendapat al-Baaji ini juga dinukil oleh As-Suyuthi di Tanwiir al-Hawaalik Syarh Muwattho’ Malik 2/260)

Dan ini dikuatkan dengan kelanjutan dari hadits di atas yang menunjukan Allah memberikan tambahan kemuliaan bagi orang yang mau mengalah dengan memaafkan, demikian juga Allah menambah derajat seseorang karena merendah dengan tawadhu’nya. Maka demikian pula Allah menambah harta seseorang dengan ia mengurangi hartanya dengan bersedekah.

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang pelit pada hakikatnya telah pelit pada dirinya sendiri, karena jika ia tidak pelit dan bersedekah di jalan Allah maka Allah akan memeberikan kepadanya tambahan harta.

Kedua : Allah menjanjikan bagi orang yang bersedekah di jalan Allah maka Allah akan memberikan kepadanya ganjaran dan pahala yang besar di akhirat kelak. Ibnu Katsir berkata :

فَإِنَّما يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ أَيْ إِنَّمَا نَقَصَ نَفْسَهُ مِنَ الْأَجْرِ وَإِنَّمَا يَعُودُ وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya ia pelit terhadap dirinya sendiri” yaitu ia menghalangi dirinya dari pahala, karenanya sesungguhnya keburukan sikap pelitnya hanya kembali kepada dirinya” (Tafsir al-Qurán al-Ádziim 7/299)

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang pelit ia pada hakikatnya pelit kepada dirinya sendiri karena ia telah menghalangi dirinya dari pahala yang besar di akhirat, ia telah pelit kepada dirinya sendiri untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan di surga kelak.

Kesimpulan : Orang yang pelit sesungguhnya ia telah pelit terhadap dirinya sehingga tidak mendapatkan keuntungan duniawi (berupa tambahan harta), terlebih lagi keuntungan di akhirat (berupa tambahan pahala yang berlipat)

FIRANDA ANDIRJA

17 Jumadal ‘Ula 1440H / 23 Januari 2019

——————————————————————————————————————————————

([1]) Karena Allah mengatakan dalam ayat ini يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ  dengan kata عَنْ , bukan dengan عَلَى. Sehingga ayat ini menjelaskan sebab seseorang pelit itu kembali kepada buruknya jiwa yang memiliki sifat pelit. (lihat Tafsir At-Thobari 21/232)

([2]) Tafsir ini dibawakan kepada bahwa makna عَنْ (dari) sama saja dengan عَلَى (kepada), dikatakan بَخِلْتُ عَلَيْهِ وَعَنْهُ. Yaitu makna وَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ sama dengan وَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَلَى نَفْسِهِ. (Lihat Al-Muharror al-Wajiiz (Tafsir Ibnu Áthiyyah) 5/123 dan al-Kasyyaaf (Tafisr Az-Zamakhsyari) 4/330). Adapun al-Baidhowi dan al-Aluusi maka mereka menjelaskan bahwa kata al-Bukhl (pelit) menggunakan kata  dan  karena “Pelit” itu sekaligus berkaitan dengan dua perkara : dari dan kepada, yaitu al-Imsaak (menahan hartanya) عَنْ dari dirinya” untuk “”diserahkan عَلَى kepada yang berhak mendapatkannya” (lihat Tafsir al-Baidoowi 5/125 dan Ruuhul Maáani 13/236)

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.