Saat-Saat Wafatnya Rasulullah صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Detik-Detik Perpisahan

Ketika dakwah telah sempurna dan Islam telah menguasai keadaan, tanda-tanda perpisahan dengan kehidupan dan dengan orang-orang yang masih hidup mulai tampak terasa dalam perasaan beliau, dan semakin jelas lagi dari perkataan dan perbuatan-perbuatan beliau sholallahu ‘alaihi wasallam.

Pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah, Rasulullah  beri’tikaf selama 20 hari. Dimana pada (tahun-tahun) sebelumnya beliau tidak pernah beri’tikaf  kecuali sepuluh hari saja

Abu Huroiroh berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشَرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ العَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا»

“Nabi shallallahu álaihi wasallam biasanya i’tikaf setiap bulan Ramadhan 10 hari. Tatkala di tahun dimana beliau meninggal maka beliau i’tikaf 20 hari” (HR Al-Bukhari no 2044)

Malaikat  jibril bertadarrus al-Qur’an dengan beliau pada tahun itu sebanyak dua kali.
Nabi pernah berkata kepada putrinya Fathimah sehingga Fathimahpun menangis:

إِنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يُعَارِضُنِي القُرْآنَ كُلَّ سَنَةٍ مَرَّةً، وَإِنَّهُ عَارَضَنِي العَامَ مَرَّتَيْنِ، وَلاَ أُرَاهُ إِلَّا حَضَرَ أَجَلِي، وَإِنَّكِ أَوَّلُ أَهْلِ بَيْتِي لَحَاقًا بِي

“Sesungguhnya Jibril biasanya mengajariku al-Qurán setahun sekali, namun pada tahun ini ia mengajariku dua kali. Menurutku ini tanda bahwa ajalku sudah dekat. Dan engkau (Fathimah) adalah orang dari ahli baituku yang pertama menyusulku” (HR Al-Bukhari no 3624 dan Muslim no 2450)

Pada haji wada’ (haji perpisahan) beliau bersabda pada saat melempar Jumrah Aqabah,

لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ، فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ

“Hendaknya kalian mengambil manasik haji kalian dariku, karena sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku akan berhaji lagi setelah hajiku ini” (HR Muslim no 1297)

Dan telah diturunkan kepada beliau di pertengahan hari tasyriq surat an-Nashr, sehingga beliau mengetahui bahwa hal itu adalah perpisahan, dan merupakan isyarat akan (dekatnya) kepergian beliau  untuk selama-lamanya. Ibnu Ábbas berkata tentang surat an-Nashr :

أَجَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمَهُ إِيَّاهُ

“(surat itu) adalah (pertanda) ajal Rasulullah shallallahu álahi wasallam yang Allah beritahukan kepada beliau”(HR Al-Bukhari no 3627)

Di tengah perjalanan pulang dari haji wadaa’ (lihat HR Al-Haakim no 4576 dan An-Nasaai di as-Sunan al-Kubro no 8092) dan di suatu tempat mata air yang disebut Khumm Nabi berkhotbah di hadapan para sahabat mengisyaratkan bahwa beliau akan meninggal.

Zaid bin Arqom berkata :

قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فِينَا خَطِيبًا، بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَوَعَظَ وَذَكَّرَ، ثُمَّ قَالَ: ” أَمَّا بَعْدُ، أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ

“Rasulullah shallallahu álaihi wasallam suatu hari berdiri di hadapan kami berkhutbah di suatu mata air yang disebut dengan “Khumm” antara Mekah dan Madinah. Maka beliau memuji Allah serta menyanjungNya, beliau memberi nasihat dan wejangan, lalu beliau berkata, “Kemudian dari pada itu, ketahuilah manusia sekalian, sesungguhnya aku ini hanyalah manusia, sebentar lagi akan datang utusan Rabbku (yaitu malaikat maut-pent) maka aku memenuhi panggilan utusan tersebut” (HR Muslim no 2408)

Di awal bulan Safar tahun 11 Hijriyah, beliau pergi menuju Uhud, kemudian melakukan sholat utk para syuhada,

Úqbah bin Áamir berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمًا فَصَلَّى عَلَى أَهْلِ أُحُدٍ صَلَاتَهُ عَلَى الْمَيِّتِ ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى المِنْبَر (وفي رواية : ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ كَالْمُوَدِّعِ لِلْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ)، فَقَالَ: «إِنِّي فَرَطُكُمْ، وَأَنَا شَهِيدٌ عَلَيْكُمْ، وَإِنِّي وَاللَّهِ لَأَنْظُرُ إِلَى حَوْضِي الآنَ، وَإِنِّي قَدْ أُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ خَزَائِنِ الأَرْضِ – أَوْ مَفَاتِيحَ الأَرْضِ – وَإِنِّي وَاللَّهِ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِي، وَلَكِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنَافَسُوا فِيهَا»

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu álaihi wasallam suatu hari keluar (ke syuhada Uhud) lalu beliau sholat kepada mereka seperti sholat mayat (dalam riwayat : Lalu Rasulullah naik di atas mimbar seperti orang yang hendak menyampaikan perpisahan bagi orang-orang yang masih hidup dan yang telah mati), lau beliau berkata : “Sesungguhnya aku kan mendahului kalian dan menjadi saksi atas kalian .Demi Allah , sesungguhnya aku sekarang benar-benar melihat telagaku,dan telah diberikan kepadaku kunci-kunci perbendaharaan bumi atau kunci-kunci bumi, dan demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan kalian akan melakukan kesyirikan sepeninggalku nanti, akan tetapi yang aku kekhawatirkan terhadap kalian adalah kalau kalian berlomba-lomba  dalam merebut kekayaan dunia”

Úqbah berkata :

فَكَانَتْ آخِرَ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ

“Itulah terakhir aku melihat Rasulullah shallallahu álaihi wasallam di atas mimbar”

(HR Al-Bukhari no 3596 dan Muslim no 2296)

Pada pertengahan suatu malam, Rasulullah keluar menuju (kuburan) Baqi’ untuk memohonkan ampunan bagi mereka, beliau berkata

إِنِّي قَدْ أُمِرْتُ أَنْ أَسْتَغْفِرَ لِأَهْلِ الْبَقِيعِ

“Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memohon ampunan kepada ahlul Baqi’ (orang-orang yang dikuburkan di Baqi’). Lalu beliau berkata kepada ahlul Baqi’,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْمَقَابِرِ، لِيَهْنِ لَكُمْ مَا أَصْبَحْتُمْ فِيهِ، مِمَّا أَصْبَحَ فِيهِ النَّاسُ، لَوْ تَعْلَمُونَ مَا نَجَّاكُمُ اللهُ مِنْهُ، أَقْبَلَتِ الْفِتَنُ كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يَتْبَعُ أَوَّلُهَا آخِرَهَا، الْآخِرَةُ شَرٌّ مِنَ الْأُولَى

”Semoga keselamatan atas kalian, wahai ahli kubur, selamat atas apa yang kalian alami (pada saat ini) sebagaimana dari pada kondisi orang-orang sekarang, seandaikan kalian tahu perkara yang Allah telah menyelamatkan kalian darinya. Fitnah-fitnah telah datang bagai potongan-potongan malam gelap gulita, yang datang silih berganti, fitnah yang datang belakangan lebih buruk daripada yang sebelumnya.”

Lalu beliau berkata

إِنِّي قَدْ أُوتِيتُ مَفَاتِيحَ خَزَائِنِ الدُّنْيَا، وَالْخُلْدَ فِيهَا، ثُمَّ الْجَنَّةَ، وَخُيِّرْتُ بَيْنَ ذَلِكَ، وَبَيْنَ لِقَاءِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ وَالْجَنَّةِ… لَقَدِ اخْتَرْتُ لِقَاءَ رَبِّي، وَالْجَنَّةَ

“Sesungguhnya aku telah diberikan kunci-kuci perbendaharaan dunia dan kekal di dunia lalu masuk surga, aku diberikan pilihan memilih hal itu ataukah untuk bertemu dengan Rabbku dan masuk surga…. Sungguh aku memilih untuk bertemu Rabbku dan surga”

Lalu Nabi shallallahu álahi wasallam memohon ampunan kepada ahlul Baqi’, lalu beliau pergi dan di pagi harinya mulailah beliau sakit yang akhirnya beliau meninggal dunia. (HR Ahmad no 15997)

 

Permulaan Sakit

Pada tanggal 29 bulan safar tahun 11 hijriyah (hari senin) Rasulullah menghadiri penguburan jenazah seorang sahabat di Baqi’.  Ketika kembali  di tengah perjalanan,beliau merasakan pusing di kepalanya dan panas mulai merambat pada sekujur tubuhnya sampai-sampai (para sahabat) dapat merasakan pengaruh panasnya pada sorban yg beliau pakai  (lihat Ar-Rohiiq al-Makhtuum hal 426).

Aisyah berkata :

رَجَعَ إِلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ مِنْ جِنَازَةٍ مِنَ الْبَقِيعِ، فَوَجَدَنِي وَأَنَا أَجِدُ صُدَاعًا وَأَنَا أَقُولُ: وَا رَأْسَاهُ، قَالَ: «بَلْ أَنَا يَا عَائِشَةُ وَا رَأْسَاهُ»، قَالَ: «وَمَا ضَرَّكِ لَوْ مُتِّ قَبْلِي فَغَسَّلْتُكِ وَكَفَّنْتُكِ وَصَلَّيْتُ عَلَيْكِ وَدَفَنْتُكِ؟»، فَقُلْتُ: لَكَأَنِّي بِكَ وَاللَّهِ لَوْ فَعَلْتَ ذَلِكَ لَرَجَعْتَ إِلَى بَيْتِي فَأَعْرَسْتَ فِيهِ بِبَعْضِ نِسَائِكَ، قَالَتْ: فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ بُدِئَ فِي وَجَعِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ

“Rasulullah shallallahu álaihi wasallam suatu hari pulang setelah menghadiri janazah di pekuburan al-Baqi’, lalu ia mendapatiku (di rumah) semantara kepalaku pusing, dan aku berkata, “Aduh sakitanya kepalaku”. Maka Nabi shallallahu álaihi wasallam berkata, “Justru aku wahai Aisyah yang sakit kepalaku”. Beliau berkata lagi, “Apa masalahnya bagimu, jika engkau meninggal sebelumku maka aku yang akan memandikan mayatmu dan mengkafanmu serta menyolatkanmu dan menguburkanmu?”. Maka aku berkata, “Sepertinya aku melihatmu -demi Allah- jika engkau melakukan hal tersebut lalu (setelah menguburkan aku) engkau pulang ke rumahku lalu engkau tidur di rumahku dengan sebagian istrimu (yang lain)”. Rasulullah shallallahu álaihi wasallam-pun tersenyum. Lalu mulailah beliau sakit yang akhirnya beliau meninggal” (HR Ahmad no 25908, Ibnu Maajah no 1465 dan Ad-Daarimi no 81 dengan sanad yang hasan)

 

Nabi shalat bersama para sahabat dalam keadaan sakit selama 11 hari, sedangkan jumlah hari sakit beliau  adalah 13 hari menurut pendapat mayoritas ulama (lihat Fathul Baari 8/473). Meskipun sakit Nabi tetap mengimami para sahabat, hingga akhirnya sakit beliau sangat parah sehingga beliau tidak bisa mengimami para sahabat selama tiga hari, dan yang menjadi imam adalah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu.

 

Minggu Terakhir Sebelum Wafat

Penyakit Rasulullah semakin berat, dan beliau ingin menetap di rumah salah satu istri beliau. Karena biasanya beliau menggilirkan jatah nginap beliau. Akan tetapi karena penyakit beliau semakin keras maka beliau ingin menetap. Dan beliau ingin menetap di rumah istri beliau yang paling beliau cintai yaitu Aisyah radhiallahu ánhaa,  sehingga beliau bertanya kepada istri-istrinya, أَيْنَ أَنَا غَدًا، أَيْنَ أَنَا غَدًا ”Dimana (giliran) jatah nginap-ku besok? Dimana (Giliran) ku besok? (yaitu di rumah istriku yang mana?). Yaitu Nabi inginnya untuk di rawat di rumah Aisyah. Akhirnya istri-istri beliau yang lain mengizinkan Nabi untuk dirawat di rumah Aisyah (lihat HR Al-Bukhari no 4450 dan Muslim no 2443).

Kemudian beliau pergi ke tempat Aisyah , beliau berjalan di apit oleh al-Fadhl bin  Abbas  dan Ali bin Abi Thalib  sedangkan kepalanya  di ikat dengan kain, dan beliau melangkahkan kedua kakinya  hingga memasuki bilik Aisyah.

Ubaidillah bin Abdillah bin Útbah berkata :

أَوَّلُ مَا اشْتَكَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِ مَيْمُونَةَ فَاسْتَأْذَنَ أَزْوَاجَهُ أَنْ يُمَرَّضَ فِي بَيْتِهَا وَأَذِنَّ لَهُ قَالَتْ: فَخَرَجَ وَيَدٌ لَهُ عَلَى الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَيَدٌ لَهُ عَلَى رَجُلٍ آخَرَ، وَهُوَ يَخُطُّ بِرِجْلَيْهِ فِي الْأَرْضِ

“Pertama kali Nabi shallallahu álaihi wasallam sakit adalah di rumah Maimunah, lalu Nabi meminta izin kepada istri-istrinya agar beliau dirawat di rumah Aisyah”.

Aisyah berkata, “Maka Nabipun keluar (menuju rumah Aisyah) sementara salah satu tangannya dibopong oleh al-Fadhl bin Ábbas dan tangan yang satunya lagi dibopong oleh lelaki yang lain (yaitu Ali bin Abi Tholib), sementara kedua kakinya terseret di tanah”  (HR Muslim no 418)

Beliau menghabiskan minggu trakhir dari detik-detik kehidupannya di sisi Aisyah.

Para sahabat menjenguk Nabi dan mendapati kondisi Nabi semakin parah. Abu Saíd al-Khudri tatkala menjenguk Nabi beliau berkata :

دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ، فَوَضَعْتُ يَدِي عَلَيْهِ فَوَجَدْتُ حَرَّهُ بَيْنَ يَدَيَّ فَوْقَ اللِّحَافِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَشَدَّهَا عَلَيْكَ قَالَ: «إِنَّا كَذَلِكَ يُضَعَّفُ لَنَا الْبَلَاءُ، وَيُضَعَّفُ لَنَا الْأَجْرُ»

“Aku menjenguk Nabi shallallahu álaihi wasallam ketika beliau sakit. Akupun meletakan tanganku kepada beliau, maka aku mendapati rasa panas tubuh beliau tembus sampai ke selimut beliau di depanku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah betapa beratnya sakitmu”. Nabi berkata, “Sesungguhnya demikianlah kami (para nabi), ujian dilipat gandakan bagi kami, dan pahala kami juga dilipat gandakan” (HR Ibnu Majah no 4024 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Demikian juga Ibnu Masúd menjenguk Nabi, beliau berkata :

دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا؟ قَالَ: «أَجَلْ، إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلاَنِ مِنْكُمْ» قُلْتُ: ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ؟ قَالَ: «أَجَلْ، ذَلِكَ كَذَلِكَ، مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى، شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا»

“Aku menjenguk Rasulullah shallallahu álaihi wasallam ketika beliau sakit. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya engkau sakit keras?”. Beliau berkata, “Tentu, sesungguhnya aku sakit sebagaimana sakitnya dua orang dari kalian”. Aku berkata, “Apakah demikian karena engkau mendapatkan pahala dua kali lipat?”. Nabi berkata, “Tentu, demikianlah. Tidak seorang muslimpun ditimpa gangguan, apakah duri atau lebih dari itu kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya” (HR Al-Bukhari no 5648 dan Muslim no 2571)

Aisyah membaca Mu’awwidzat (al-Ikhlas, al-Falaq, al-Nas) dan doa yang dihafal dari Rasulullah, kemudian meniupkannya pada tubuh Rasulullah dan mengusapkan tangannya dengan mengharap keberkahan dari hal tersebut. Aisyah berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ، فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu álaihi wasallam jika sakit maka beliau meruqyah diri beliau dengan muáwwidzaat lalu meniupkannya. Tatkala sakit beliau semakin keras maka akulah yang meruqyah beliau dan aku mengusap dengan tangan beliau mengharapkan keberkahan tangan beliau” (HR Al-Bukhari no 5016 dan Muslim no 2192)

Hal ini karena kondisi Nabi yang sangat parah sehingga tidak bisa meruqyah diri sendiri.

 

Lima Hari Sebelum Wafat

Hari Rabu, lima hari sebelum wafat, demam menyerang seluruh tubuhnya, sehingga sakitnya pun semakin parah dan beliau pingsan karenanya, Ketika sadar beliau berkata,

هَرِيقُوا عَلَيَّ مِنْ سَبْعِ قِرَبٍ، لَمْ تُحْلَلْ أَوْكِيَتُهُنَّ، لَعَلِّي أَعْهَدُ إِلَى النَّاسِ

”Siramkanlah kepadaku tujuh kantor air yang yang belum dibuka tali penutupnya, semoga aku bisa keluar menemui orang-orang”

Aisyah berkata :

وَأُجْلِسَ فِي مِخْضَبٍ لِحَفْصَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ طَفِقْنَا نَصُبُّ عَلَيْهِ تِلْكَ، حَتَّى طَفِقَ يُشِيرُ إِلَيْنَا: «أَنْ قَدْ فَعَلْتُنَّ». ثُمَّ خَرَجَ إِلَى النَّاسِ

“Maka Nabipun didudukan di mikhdhob (yaitu semacam bak yang digunakan untuk mencuci pakaian-pent) milik Hafshoh istri Nabi shallallahu álaihi wasallam lalu kamipun menyiramkan air kepada beliau, hingga akhirnya beliau memberi isyarat “yaitu sudah cukup”, lalu beliau keluar menemui orang-orang” (HR Al-Bukhari no 198).

Pada saat itu beliau membaik, kemudian masuk  ke dalam masjid dalam keadaan kepala di ikat  dengan sorban berwarna hitam, lalu duduk di atas mimbar .

Ibnu Ábbas berkata

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، بِمِلْحَفَةٍ قَدْ عَصَّبَ بِعِصَابَةٍ دَسْمَاءَ، حَتَّى جَلَسَ عَلَى المِنْبَرِ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ النَّاسَ يَكْثُرُونَ وَيَقِلُّ الأَنْصَارُ، حَتَّى يَكُونُوا فِي النَّاسِ بِمَنْزِلَةِ المِلْحِ فِي الطَّعَامِ، فَمَنْ وَلِيَ مِنْكُمْ شَيْئًا يَضُرُّ فِيهِ قَوْمًا وَيَنْفَعُ فِيهِ آخَرِينَ، فَلْيَقْبَلْ مِنْ مُحْسِنِهِمْ وَيَتَجَاوَزْ عَنْ مُسِيئِهِمْ» فَكَانَ آخِرَ مَجْلِسٍ جَلَسَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Rasulullah shallallahu álaihi wasallam keluar -ketika sedang sakit yang akhirnya beliau meninggal- (menemui manusia) dengan berselimutkan kain, sementara kepala beliau diikat dengan sorban hitam. Hingga beliau di atas mimbar, maka beliau memuji Allah dan menyanjungNya, lalu beliau berkata, “Kemudian daripada itu, sesungguhnya orang-orang semakin banyak dan kaum Anshor menjadi sedikit, sampai jumlah mereka seperti garam di makanan. Maka barangsiapa diantara kalian yang mengurusi sesuatu yang memudorotkan suatu kaum dan memberi manfaat kaum yang lain maka hendaknya ia menerima orang yang baik diantara mereka dan memaafkan yang salah diantara mereka”. Itulah majelis terakhir Nabi shallallahu álaihi wasallam” (HR Al-Bukhari no 3628)

Dalam majelis tersebut beliau juga berkata :

Abu Saíd al-Khudri berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَسَ عَلَى المِنْبَرِ فَقَالَ: «إِنَّ عَبْدًا خَيَّرَهُ اللَّهُ بَيْنَ أَنْ يُؤْتِيَهُ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا مَا شَاءَ، وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ، فَاخْتَارَ مَا عِنْدَهُ» فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ: فَدَيْنَاكَ بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، فَعَجِبْنَا لَهُ، وَقَالَ النَّاسُ: انْظُرُوا إِلَى هَذَا الشَّيْخِ، يُخْبِرُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَبْدٍ خَيَّرَهُ اللَّهُ بَيْنَ أَنْ يُؤْتِيَهُ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا، وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ، وَهُوَ يَقُولُ: فَدَيْنَاكَ بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ المُخَيَّرَ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ هُوَ أَعْلَمَنَا بِهِ، وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا مِنْ أُمَّتِي لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ، إِلَّا خُلَّةَ الإِسْلاَمِ، لاَ يَبْقَيَنَّ فِي المَسْجِدِ خَوْخَةٌ إِلَّا خَوْخَةُ أَبِي بَكْرٍ»

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu álaihi wasallam duduk di atas mimbar lalu ia berkata, ” Sesungguhnya ada seorang hamba yang di minta  untuk memilih  satu dari dua hal oleh Allah, antara diberikan kepadanya segala kemewahan dunia  sesukanya, atau di berikan kepadanya  apa yang ada di sisi-Nya maka ia memilih apa yang ada di sisi-Nya”. Abu Bakar pun menangis, dan berkata (kepada Rasulullah) “Bapak dan ibu kami sebagai tebusan  bagimu,” sehingga kami menjadia heran kepadanya. Para sahabat pun berkata,” Lihatlah orang tua ini (Abu Bakar)! Rasulullah mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi  Allah kesempatan  untuk memilih  antara diberikan kepadanya kemewahan dunia  atau apa yang ada di sisi-Nya,malah ia(Abu Bakar) mengatakan ,”Bapak dan ibu kami  sebagai tebusan bagimu.” Ternyata Rasulullah itu sendirilah hamba yang diberi pilihan, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang paling berilmu di antara kami.

Dan Rasulullah shallallahu álaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya diantara orang yang paling berjasa terhadapku dalam persahabatannya dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku mengambil kekasih dari umatku maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku, kecuali hanya kekasih dalam Islam. Tidak ada khoukhoh (semacam jendela besar atau pintu kecil) yang tersambung ke masjid kecuali jendela Abu Bakar (yaitu semua khoukhoh para sahabat yang lain yang nyambung ke dinding masjid ditutup kecuali khoukhoh-nya Abu Bakar-pent)” (HR Al-Bukhari no 3904)

Anas bin Malik berkata :

مَرَّ أَبُو بَكْرٍ، وَالعَبَّاسُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، بِمَجْلِسٍ مِنْ مَجَالِسِ الأَنْصَارِ وَهُمْ يَبْكُونَ، فَقَالَ: مَا يُبْكِيكُمْ؟ قَالُوا: ذَكَرْنَا مَجْلِسَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَّا، فَدَخَلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ بِذَلِكَ، قَالَ: فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ عَصَبَ عَلَى رَأْسِهِ حَاشِيَةَ بُرْدٍ، قَالَ: فَصَعِدَ المِنْبَرَ، وَلَمْ يَصْعَدْهُ بَعْدَ ذَلِكَ اليَوْمِ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «أُوصِيكُمْ بِالأَنْصَارِ، فَإِنَّهُمْ كَرِشِي وَعَيْبَتِي، وَقَدْ قَضَوُا الَّذِي عَلَيْهِمْ، وَبَقِيَ الَّذِي لَهُمْ، فَاقْبَلُوا مِنْ مُحْسِنِهِمْ، وَتَجَاوَزُوا عَنْ مُسِيئِهِمْ»

“Abu Bakar dan al-Ábbas melewati suatu majelis kaum Anshoor, sementara mereka sedang menangis. Maka Abu Bakar berkata, “Apakah yang membuat kalian menangis?”. Mereka berkata, “Kami mengenang majelis Nabi shallallahu álaihi wasallam bersama kami” (yaitu mereka bersedih karena Nabi sudah lama tidak keluar menyampaikan wejangan kepada mereka sehingga kawatir Nabi shallallahu álaihi wasallam tidak bisa lagi bermajelis dengan mereka -pent). Maka Abu Bakarpun menemui Nabi dan mengabarkan beliau akan hal itu. Maka Nabi shallallahu álaihi wasallampun keluar sementara kepala beliau diikat dengan ujung kain (yang asal kainnya berbentuk segi empat). Lalu beliau naik di atas mimbar -dan beliau tidak naik lagi ke mimbar tersebut setelah itu- lalu beliau memuji Allah dan menyanjungNya kemudian beliau berkata, “Aku berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kaum Anshor, mereka adalah orang-orang khusus-ku, mereka telah menunaikan janji mereka (yaitu janji di malam baiátul Aqobah untuk menolong Nabi) dan tinggal hak mereka (yaitu masuk surga), maka terimalah yang baik diantara mereka dan maafkanlah yang salah diantara mereka” (HR Al-Bukhari no 3799)

 

Empat Hari Sebelum Wafat

Pada hari kamis, empat hari sebelum Rasulullah wafat, Ibnu Ábbas berkata :

يَوْمُ الخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الخَمِيسِ؟ ثُمَّ بَكَى حَتَّى خَضَبَ دَمْعُهُ الحَصْبَاءَ، فَقَالَ: اشْتَدَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعُهُ يَوْمَ الخَمِيسِ، فَقَالَ: «ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا»، فَتَنَازَعُوا، وَلاَ يَنْبَغِي عِنْدَ نَبِيٍّ تَنَازُعٌ

“Hari kamis ada apa dengan hari kamis? Lalu beliaupun menangis hingga air mata beliau membasahi tanah. Lalu beliau berkata, “Sakit Rasulullah shallallahu álaihi wasallam pada hari kamis semakin parah, lalu beliau berkata, “Datangkanlah kepadaku tulisan aku akan tuliskan bagi kalian sebuah pesan yang kalian tidak akan tersesat setelah itu selamanya”. Maka merekapun berselisih, dan tidak pantas terjadi perselisihan di sisi Nabi”.

Dalam riwayat yang lain,

قَالَ عُمَرُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَلَبَهُ الوَجَعُ، وَعِنْدَنَا كِتَابُ اللَّهِ حَسْبُنَا. فَاخْتَلَفُوا وَكَثُرَ اللَّغَطُ، قَالَ: «قُومُوا عَنِّي، وَلاَ يَنْبَغِي عِنْدِي التَّنَازُعُ» فَخَرَجَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ: «إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ، مَا حَالَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ كِتَابِهِ»

Umar berkata, “,”Sesungguhnya rasa sakit telah mempengaruhi Rasulullah, kalian telah memiliki al-Qur’an ,maka cukuplah al-Qur’an bagi kalian.”([1])  Maka terjadilah perselisihan dan banyak suara gaduh.  Rasulullah bersabda, “Pergilah kalian dariku!, tidak pantas terjadi perselisihan di sisiku”. Maka Ibnu ‘Abbas keluar seraya berkata, “Sungguh musibah, dan seluruh musibah adalah apa yang menghalangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menulis tulisan tersebut” (HR Al-Bukhari no 114 dan Muslim no 1637)

Tatkala itu Nabi shallallahu álaihi wasallam berwasiat dengan 3 perkara, (1) beliau bersabda أَخْرِجُوا المُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ العَرَبِ “Keluarkanlah kaum musyrikin dari jazirah Arab”, ke (2) وَأَجِيزُوا الوَفْدَ بِنَحْوِ مَا كُنْتُ أُجِيزُهُمْ “Berilah hadiah/pemberian/pengharggan kepada para tamu/delegasi sebagaimana pemberian yang biasa aku berikan kepada mereka”, dan washiat yang ke (3) dilupakan oleh sang perawi.

Bisa jadi washiat yang ketiga adalah([2])

Pertama : “Berpegang kepada al-Qurán dan As-Sunnah”, atau 

Kedua : “Pengiriman tentara Usamah” atau

Ketiga : Agar kuburannya tidak dijadikan berhala yang disembah.

Nabi berkata :

اللهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا، لَعَنَ اللهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Ya Allah janganlah Engkau menjadikan kuburanku berhala, semoga Allah melaknat kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid” (HR Ahmad no 7358 dengan sanad yang kuat)

Walaupun penyakit yang di derita Nabi sangat parah, akan tetapi beliau masih sempat menunaikan semua shalatnya mengimami jamaah para sahabat nya hingga hari itu, yaitu hari kamis, empat hari sebelum wafat, dan pada hari itu Rasulullah telah menunaikan shalat maghrib bersama mereka, pada saat itu beliau membaca surat al-mursalaat

Ummu al-Fadhl berkata :

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَقْرَأُ فِي المَغْرِبِ بِالْمُرْسَلاَتِ عُرْفًا، ثُمَّ مَا صَلَّى لَنَا بَعْدَهَا حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ»

“Aku mendengar Nabi shallallahu álaihi wasallam membaca surat al-Mursalaat di sholat maghrib, lalu setelah itu Nabi tidak pernah mengimami kami lagi hingga beliau meninggal dunia” (HR Al-Bukhari no 4429)

Pada waktu isya, sakit Rasulullah semakin parah, hingga beliau tidak bisa ke masjid.  Aisyah berkata,

ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «أَصَلَّى النَّاسُ؟» قُلْنَا: لاَ، هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ، قَالَ: «ضَعُوا لِي مَاءً فِي المِخْضَبِ». قَالَتْ: فَفَعَلْنَا، فَاغْتَسَلَ، فَذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَفَاقَ، فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَصَلَّى النَّاسُ؟» قُلْنَا: لاَ، هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «ضَعُوا لِي مَاءً فِي المِخْضَبِ» قَالَتْ: فَقَعَدَ فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَفَاقَ، فَقَالَ: «أَصَلَّى النَّاسُ؟» قُلْنَا: لاَ، هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ: «ضَعُوا لِي مَاءً فِي المِخْضَبِ»، فَقَعَدَ، فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ ذَهَبَ لِيَنُوءَ فَأُغْمِيَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ: «أَصَلَّى النَّاسُ؟» فَقُلْنَا: لاَ، هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَالنَّاسُ عُكُوفٌ فِي المَسْجِدِ، يَنْتَظِرُونَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ لِصَلاَةِ العِشَاءِ الآخِرَةِ، فَأَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ بِأَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، فَأَتَاهُ الرَّسُولُ فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – وَكَانَ رَجُلًا رَقِيقًا -: يَا عُمَرُ صَلِّ بِالنَّاسِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: أَنْتَ أَحَقُّ بِذَلِكَ، فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ تِلْكَ الأَيَّامَ،

“Penyakit Nabi shallallahu álaih wasallam semakin berat, maka beliau bertanya, ”Apakah orang-orang telah menunaikan shalat?”, kami menjawab ,”Belum wahai Rasulullah, mereka menunggumu.”. Beliau berkata, ”Siapkanlah untukku air di bejana !”. Kamipun melaksanakannya, kemudian Rasulullah mandi, ketika hendak bangkit beliau pingsan, dan tak lama kemudian beliau sadar, dan bertanya, ”Apakah orang-orang telah menunaikan shalat?”, kami berkata, ”Belum wahai Rasulullah, mereka menunggumu.” Beliau berkata, ”Siapkanlah untukku air di bejana !”, kemudian Rasulullah duduk dan mandi, ketika hendak bangkit beliau pingsan, dan tak lama kemudian beliau sadar, dan bertanya, ”Apakah orang-orang telah menunaikan shalat?” kami berkata, ”Belum wahai Rasulullah, mereka menunggumu.” Beliau berkata, ”Siapkanlah untukku air di bejana !”, kemudian Rasulullah duduk dan mandi, ketika hendak bangkit beliau pingsan, dan tak lama kemudian beliau sadar, dan bertanya, ”Apakah orang-orang telah menunaikan shalat?” kami berkata, ”Belum wahai Rasulullah, mereka menunggumu”. Sementara orang-orang berkumpul di masjid menunggu Nabi shallallahu álaihis salam untuk sholat Isya’. Maka Nabi shallallahu álaihi wasallam pun mengutus seseorang untuk meminta Abu Bakar mengimami orang-orang. Maka utusan Nabi mendatangi Abu Bakar dan berkata, “Sesungguhnya Nabi memerintahmu untuk mengimami jamaáh !”. Maka Abu Bakar berkata -dan beliau adalah seorang yang lembut-, “Wahai Umar, engkaulah yang mengimami jamaáh !”.

Umar berkata, “Engkau yang lebih berhak untuk jadi imam”. Maka pada hari-hari tersebut Abu Bakar menjadi imam” (HR Al-Bukhari no 687 dan Muslim no 418)([3])

Aisyah telah meminta kepada Nabi tiga atau empat kali untuk memberhentikan Abu Bakar menjadi imam, supaya orang-orang tidak merasa pesimis dengannya. Ketika Nabi berkata, مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ “Suruh Abu Bakar agar mengimami orang-orang”, maka Aisyah berkata, إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ، إِذَا قَرَأَ غَلَبَهُ البُكَاءُ “Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang lembut, jika membaca al-Qurán tidak kuasa menahan tangisan” (dalam riwayat yang lain : فَلَوْ أَمَرْتَ غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ “Seandainya engkau menyuruh orang lain yang menjadi imam”). Maka Nabi berkata, مُرُوهُ فَيُصَلِّي “Perintahkan Abu Bakar agar sholat”. Aisyah mengulangi lagi perkataannya (dalam riwayat yang lain Aisyah berkata فَرَاجَعْتُهُ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا “Akupun mengulangi perkataanku kepada Nabi dua atau tiga kali”). Maka Nabi berkata, مُرُوهُ فَيُصَلِّي، إِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ “Perintahkan Abu Bakar untuk sholat, sesungguhnya kalian (para wanita) adalah para wanita dalam kisah Yusuf álaihis salam”([4]) (HR Al-Bukhari no 682 dan Muslim no 418).

Aisyah berkata,

وَاللهِ، مَا بِي إِلَّا كَرَاهِيَةُ أَنْ يَتَشَاءَمَ النَّاسُ، بِأَوَّلِ مَنْ يَقُومُ فِي مَقَامِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Demi Allah tidaklah aku berkata demikian melainkan aku kawatir orang-orang akan menganggap munculnya keburukan terhadap orang yang pertama kali menempati kedudukan Rasulullah shallallahu álaihi wasallam” (HR Muslim no 418)

Pada hari-hari itu Abu Bakar telah menjadi imam sebanyak 17 kali waktu shalat selama hidup Rasulullah , yaitu shalat isya pada hari kamis, shalat shubuh pada hari senin dan 15 waktu shalat(yang lainnya) di antara hari-hari tersebut.

              Nabi memanggil Fathimah radhiallahu ánhaa. Aisyah radhiallahu ánhaa berkata :

دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاطِمَةَ ابْنَتَهُ فِي شَكْوَاهُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ

Leave a Reply

HALO USTADZ

Halo Ustadz adalah sebuah layanan Telewicara yang menghubungkan antara jamaah dan Ustadz.
Ar- Rahmaan